Selasa, 25 Juni 2013
TANGISAN MALAIKAT
Toleh kiri…toleh kanan…Tunggu! Masih ada yang melintas, ah..tidak apa-apa masih bisa berjalan selangkah demi selangkah untuk mencapai sebrang sana. Makassar sudah seperti Jakarta saja, macetnya minta ampun kalau waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 hinga adzan shalat Magrib berkumandan. itupun biasanya masih banyak kendaraan yang masih berkeliaran, kebanyakan para pekerja yang baru pulang dari kantor dan berusaha menuju rumah, tapi lagi-lagi kemacetan membuat semua pengendara harus shalat magrib di jalan.
Pria yang bernama Gugun masih saja berdiri diseberang jalan bersama fikirannya yang terus saja membuatnya tersenyum, “yeah.. pulang kampung, rindu Ibu, Ayah, kakak”. Segera pria yang bernama lengkap Agung Zulfikar dengan umur 21 tahun dengan tinggi 169 cm, yang mempunyai badan kerempeng tapi selalu terlihat cool yang selalu mengenakan kacamata minus yang tak pernah terlepas dari wajahnya melangkahkan kaki menuju seberang jalan untuk menahan angkot menuju terminal tempat Gugun mengambil bus menuju ke kampung halamannya.
Rasa senang Gugun tidak bisa di rangkaiankan dengan sebuah kata, dua tahun sudah Gugun tidak menginjakkan kaki di kampung kelahirannya karena aktivitas kampus yang begitu padat serta sambilannya sebagai seorang News Editor disalah satu stasiun TV Lokal di Makassar memaksanya untuk tidak bersilaturahmi dengan keluarga di kampung bahkan saat Hari raya Idul Fitri.
“Baru dapat izin cuti yang bersamaan dengan libur kampus, Alhamdulillah.. saya bisa menikmati waktu libur yang lebih lama di kampung halaman”. Sambil membuka gallery pada handphone miliknya di angkot biru tujuan terminal Daya, Gugung melihat foto-foto yang sangat bahagia, senyum yang sangat Gugun rindukan dilayar Handphone kesayangan hadiah dari Ayahanda Gugung tiga tahun yang lalu sebelum Gugung meninggalkan kampung halamannya dan menginjakkan kaki di kota yang keras itu untuk menuntut ilmu seperti tujuan awalnya.
***
Matahari tidak menampakkan cahayanya lagi dan kini telah berganti dengan cahaya bintang yang begitu indah bertaburan di angkasa, “kalau melihat bintang di kampung nanti pasti lebih indah dari bintang yang sekarang”. Gugun bersandar pada sebuah dinding tapi tidak mendapatkan posisi nyamannya. “Sekarang masuk waktu shalat isya tapi Bus berangkat pukul sepuluh, ahh.. rasanya lama sekali”. Gugung lalu berdiri untuk mencari tempat duduk yang setidaknya bisa memberikan gugung posisi enak hingga pukul sepuluh nanti.
Semua deretan kursi yang berjejer di penuhi dengan orang-orang yang menunggu bus untuk menuju tujuannya masing-masing. Gugung terus mencari tempat yang bisa membuatnya istirahat tapi tidak ada satupun selah yang didapatkan oleh Gugun, dan akhirnya Gugun berinisiatif untuk mencari makan dan rokok, tapi sebelumnya Gugun cari rokok dulu agar setelah makan Gugun tidak kebingungan lagi untuk ngerokok..
Setelah mendapatkan rokok yang di cari, Gugun lalu mengisap satu batang rokok dengan nikmatnya sambil mencari tempat yang enak buat duduk dan makan.
Setelah beberapa menit akhirnya Gugun menemukan tempat yang menurut Gugun nyaman, tapi tetap saja Gugun celingukan karena semua tempat duduk sudah ada yang menempati dan tempat duduk sasarannya di ambil alih dengan orang lain. Tapi disela-sela kebingungan Gugun tiba-tiba suara seorang bapak tua membuat Gugun menoleh ke kiri tempat bapak tua tersebut duduk.
“silahkan mas, disini saja duduk sama saya”. Kata bapak tua tersebut mempersilahkan Gugun duduk disisi kanannya. Gugun langsung menuruti panggilan bapak tua tersebut dan langsung duduk meskipun di tempat itu agak kotor tetapi tempat yang kosong Cuma disitu saja. Dengan detail Gugun memperhatikan bapak tua tersebut. Sudah sangat tua, badannya yang kurus, giginya yang sudah ompong, rambutnya yang putih semua, sambil bawa tas besar dan kresek yang isinya plastik semua.
“Lagi nunggu apa pak?”. Tanya Gugun kepada si bapak yang dari tadi membereskan plastik-plastik yang berada dalam kresek.
“tidak mas, ini Cuma duduk-duduk saja abis nyari sampah seharian…capek..”.
“jalan dari jam berapa pak?”.
“dari pagi mas, tapi Alhamdulillah dapatnya udah lumayan banyak”.
“oooohhh”. Obrolan Gugun dan Bapak tua terhenti, Gugun kembali menikmati rokoknya dan bapak tua tersebut kembali merapikan plastik-plastik hasil kerjanya dari pagi.
Sekilas Gugun melihat bapak tua tersebut memijat-mijat kepala sambil menghela nafas panjang “kasian bapak ini” ucap gugun dalam hati. Gugun kembali memulai pembicaraannya bersama bapak tua yang duduk tepat disampingnya itu.
“pusing ya pak? Emang liat orang-orang lalulalang depan kita bikin pusing pak”.
“iya mas, agak pusing kepala saya”. Sambil tertawa kecil dan masih memijat kepalanya.
“Bapak merokok? Ini kalau bapak mau”. Gugun menyodorkan rokok yang tinggal tiga batang kepada bapak tua itu.
“tidak mas, makasih.. saya tidak merokok, sayang uangnya, mending untuk beli makan dari pada untuk beli rokok, lagian juga tidak bagus untuk kesehatan badan”. Gugun langsung tersentak mendengar perkataan bapak tua tersebut, kena bangeeettttt..
“iya juga sih pak”. Jawab gugun sambil menginjak rokok yang masih tersisa banyak.
***
“kriuukkk kriuukkk”. Suara itu spontan membuat Gugun berbalik kearah bapak tua yang ada disampingnya.
“Bapak belum makan ya?”.
“belum mas, mungkin nanti”. Jawab bapak tua itu dengan senyuman.
“wuah.. nanti tambah pusing pak”.
“iya mas, tapi udah biasa kok”. Tetap dengan senyumannya.
Tidak lama kemudian terdengar suara yang sama membuat Gugun kembali menoleh ke arah bapak tua yang duduk di sebelah kirinya dengan rasa kasian.
“benar pak, bapak tidak mau makan?”.
“iya mas benar, nanti saja”.
Kali ini Gugun yakin sangat yakinnya bahwa Bapak tua dengan kresek ini bukannya tidak mau makan atau makan nanti saja, tapi Gugun yakin kalau beliau tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.
“Bentar ya pak saya ke warung dulu mau beli makan”. Tegur Gugun dan langsung meninggalkan bapak tua yang dari tadi setia duduk bersamanya. Gugun segera menuju warung masakan padang terdekat dan memesan makanan buat dirinya sendiri dan berinisiatif untuk membeli satu lagi makanan untuk bapak tua tadi. Setelah makanan ada di tangan Gugun dan membayar makanan yang dibelinya, Gugun segera kembali ke tempat di mana bapak tua tadi masih betah duduk dengan memijat-mijat kepalanya.
“Mau langsung kasih makanan ini ke bapak, tapi kok saya takut ya kalau nanti si bapak salah tanggap atau bahkan tersinggung, bagaimana ya?”. Sambil memutar-mutar fikirannya akhirnya Gugun mendapat jawaban dari pertanyaanya tadi, yaitu berakting pura-pura mengangkat telepon.
“halo, benar kamu tidak jadi kesini? Sudah saya belikan makanan nih…… ow begitu…… ya sudah, selamat bekerja deh…”. Dengan lagak menutup telepon dan kembali menyimpan handphonenya ke saku celana.
“wuah payah ni pak teman saya, udah di pesanin makanan ternyata tidak jadi ikut”.
“yah tidak apa-apa mas, dibungkus saja.. nanti bisa di makan dijalan kalau lapar lagi”. Jawab bapak tetap dengan senyum khasnya.
“wuah.. nanti basi pak, berangkatnya saja nanti jam sepuluh, dimakan sekarang pasti tidak abis.. bagaimana ya? Mmmm.. oia.. bapak kan belum makan, ini makanan untuk bapak saja daripada sayang tidak ada yang makan pak”. Sambil menyodorkan makanan.
“waduh mas, saya tidak punya uang untuk bayarnya”. Dugaan Gugun benar, bapak ini tidak punya uang.
“tidak apa-apa pak, makan saja.. saya juga sudah bayar kok pak, lagian hari ini saya lagi naik jabatan”. Ucap Gugun dengan polosnya walau sebenarnya Gugun sengaja berbohong agar si bapak mau mengambil makanan yang sudah dari tadi Gugun sodorkan.
“benar tidak apa-apa mas? Saya malu”.
“lo.. kenapa malu pak? Sudah, makan saja”.
“iya mas, selamat ya mas atas naik jabatannya”
“iya pak terimakasih, bapak mau pesan minum sekalian tidak? Saya mau pesan minum ni pak”.
“tidak mas, tidak usah”.tanpa memperduliakn tolakan bapak Gugun langsung membeli dua dengan alasan semua minuman buat Gugun.
“iya pak, saya beli dua.. soalnya saya haus sekali pak”. Tapi kebohongan kali ini membuat Gugun merasa bersalah, bapak tua yang dari tadi menemaninya berbincang meneteskan air mata sambil mengucapkan syukur berkali-kali.
“mas, terimakasih sudah belikan saya makan. Jujur mas.. saya belum makan dari kemarin, saya malu mas.. sebenarnya saya ingin membeli makan dari hasil kerja keras saya sendiri, karena saya bukan pengemis yang meminta-minta. Sebenarnya saya lapar sekali mas, tapi saya belum mendapatkan hasil dari mencari sampah”.
Gugun tertegun mendengar ucapan bapak tua dengan kresek, hati Gugun terasa teriris-iris mendengar setiap kalimat dan melihat tetesan air mata dari mata si bapak tua tersebut, apalagi dengan ucapan Alhamdulillah yang berkali-kali bapak tua tersebut ucapkan. Hati Gugun terasa sesak hingga Gugun sangat ingin meneteskan air mata. Tapi Gugun masih bisa tahan karena takut si bapak tersinggung lagian Gugun harus tetap terlihat cool didepan umum.
”‘ya sudah pak.. bapak makan saja dulu nasinya, nanti kalau kurang saya pesankan lagi ya pak, jangan malu-malu”.
“iya mas, makasih banyak mas.. mungkin saya tidak bisa balas, tapi nanti yang di atas balas kebaikan mas”. Masih dengan tetesan air matanya
“iya pak, makasih doanya”. Akhirnya Gugun dan Bapak tua menyantap makanannya dengan lahap, bapak tua itu terlihat begitu mensyukuri setiap butiran nasi yang masuk dalam mulutnya. Gugunpun terlihat sangat menikmati makanan yang ia santap layaknya bapak tua yang tak pernah mengisi lambung tengahnya dari kemarin.
***
“Bapak tinggal dimana?”. Tanya Gugun selepas menyantap makanan yang sangat bermakna bagi bapak tua itu.
“saya tidak punya rumah mas, saya tinggal dimana saja”. Mendengarkan perkataan bapak itu Gugun terdiam dan mematung. Beberapa menit kemudian Gugun kembali memulai percakapannya.
“Terus keluarga bapak mana?”. Bapak tua itu lalu tersenyum dan merunduk sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Gugun.
“saya punya dua anak dan satu istri, istri saya meninggal tahun lalu karena kanker, anak saya yang satu juga meninggal karena kecelakaan, sedangkan anak saya yang satu lagi pergi meninggalkan saya dan ibunya sewaktu ibunya masih hidup. Sudah tiga tahun anak itu meninggalkan kami. Dulupun saya punya rumah, tapi rumahnya di ambil sama orang kredit karena tidak bisa ngelunasin uang pinjaman buat ngobatin istri bapak”.
Miris sekali hati Gugun mendengar cerita si bapak tua ini. Hidup sebatang kara, tidak punya rumah, punya anak yang durhaka, jarang makan pula. Rasanya sakit sekali hati Gugun terasa di sayat-sayat apalagi saat mendengar bahwa si bapak pernah dapat uang hasil mulung yang lumayan banyak tetapi dipalak preman saat ingin membeli makan.
“rasanya saya sangat beruntung dengan kondisi saya sekarang, saya menyesal pernah mengeluh tentang kuliah, kerjaan saya, tentang kondisi kos saya dan yang lain.. sedangkan bapak ini dalam kondisi yang sangat kekurangan masih bisa tersenyum, subhanallah..”. ucap Gugun dalam hati tak sadar matanya telah berkaca-kaca.
“rasanya sepiring nasi dan segelas es teh yang saya berikan kepada bapak sangat tidak setimpal dengan pelajaran yang bapak berikan kepada saya”. Gugun lalu merogok sakunya dan mengambil semua isi dompetnya, diserahkannya beberapa lembar uang kertas dua puluh ribuan kepada si bapak dengan usaha yang sangat gigih, karena bapak tersebut sangat tidak ingin diberi uang dengan Cuma-Cuma. Tapi pada akhirnya dengan berbagai cara bapak tua itu mengambil uang dari Gugun yang tidak seberapa.
“terimakasih banyak mas, semua pemberian mas ini insyaallah akan dibalas sama yang di atas, semoga mas diberikan rejeki yang tak habis-habisnya, semoga mas bahagia dunia akhirat dan semua cita-cita dan keinginan mas dapat dikabulkan oleh Allah SWT secepatnya”, bla…bla…bla.. banyak sekali doa-doa yang keluar dari bapak tua tadi untuk Gugun, rasa terharu dan bahagiapun bisa Gugun rasakan saat melihat senyum bapak tua tersebut.
“terimakasih juga pak atas doa-doanya, saya pergi dulu pak nanti bus saya keburu berangkat”
“iya mas, hati-hati dijalan dan terimakasih untuk semuanya”.
“terimakasih juga untuk pelajaran yang bapak kasih untuk saya”. Dan akhirnya Gugun beranjak pergi dari tempatnya bertemu dengan bapak tua itu begitupun dengan si bapak.
Beberapa meter setelah gugun dan bapak tua itu berpisah, Gugun menoleh kebelakang mencari bapak tua itu. Al hasil Gugun akhirnya meneteskan air mata dan tidak terlihat layaknya pria cool lagi, tetapi terlihat bagai pria cengeng yang tidak rela pisah dari sang Ibu.
“subhanallah ya Allah.. di tengah kesulitan yang beliau alami, beliau masih sempat amal dan berbagi dengan orang lain. Sedangkan saya yang terkadang mendapatkan rejeki-Mu menghabiskannya begitu saja”. Air mata Gugun terus mengalir saat melihat bapak tua tersebut berdiri didepan masjid untuk mengisi kotak amal yang tersedia di masjid tersebut. Gugun merasa kecil sebagai manusia, dan sangat berterimakasih kepada Allah karena ditunjukkan sesuatu yang benar-benar hebat.
***
Dalam Bus, Gugun terus saja memikirkan bapak tua tadi dan sangat merasa bersyukur karena bisa bertemu bapak tua itu. Banyak pelajaran yang Gugun dapatkan dari bapak tua itu, tentang kehidupan, semangat, keikhlasan dan rasa syukur.
“Semoga beliau di lancarkan segala urusannya, diberi kemudahan dan rejeki berlimpah, dan selalu berada dalam lindungan-Mu ya Rabb”.
Wallahu a’lam bish shawab
TAMAT
Selasa, 12 Maret 2013
HADIAH UNTUK GURU
“Hiduplah tanahku Hiduplah Negriku, Bangsaku Rakyatku Semuanya, Bangunlah jiwanya Bangunlah raganya………” Kompak suara anak kelas V menyanyikan lagu kebangsaan INDONESIA RAYA yang dipimpin oleh Bapak Bulan wali kelas kami sekaligus menjabat sebagai kepala sekolah disekolah kami.
Sekolah
kami sangat sederhana, sesederhana kami murid-muridnya dan tiga guru yang setia
mendampingi kami dari kelas satu hingga sekarang. salah satunya adalah Pak
Bulan yang saat ini memimpin menyanyikan lagu Indonesia raya didepan kelas V,
kelasku tercinta.
“Untuk
Indonesia Raya.. Indonesia raya mer…..” Anak kelas V yang sejak tadi sangat
menikmati menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia itu tiba-tiba terdiam. Ada yang
memperlihatkan ekspresi panik, kaget, teriak, ada yang tersentak lari ke arah
Pak Bulan, dan itu Aku.
Sejenak
suara benturan yang sangat keras terdengar tidak lama setelah suara batuk yang bercampur
dengan suara nyanyian yang kacau. Serentak anak kelas V menampakkan ekspresi yang
berbeda dan menghampiri Pak Bulan yang tergeletak didepan kami. Suara Awan
teman sebangku sekaligus teman baikku begitu menggelegar hingga Ibu Matahari
bergegas berlari kekelas kami sambil mengucapkan kata-kata yang biasanya Ibu
Matahari Ucapkan saat kami bandel dan ribut dikelas.
“Awas
kalian, suara kalian tambah hari tambah buat telinga saya ingin pecah”. Sambil
memegang sapu pada tangan kanannya.
Ibu
Matahari adalah guru tergalak di antara tiga guru lainnya, walaupun galak, Ibu
Matahari paling Is The Best deh.. Apapun yang Ibu Matahari ajarkan ke kami
pasti Ilmunya nyerap dan tahan lama. Kayak Parfum gitu deh.. tapi di antara
bermacam-macam wangi parfum, aroma yang paling tahan lama itu katanya aramo
yang wanginya tidak menyengat, katanya sih, soalnya Bintang tidak pernah pakai
parfum, hhehe.. Eh,,kok bahas parfum sih, kita kembali ke ceritanya lagi yuk…
Melihat Pak Bulan tergeletak, Ibu Matahari
dengan cepat menghampiri Pak bulan dan menyuruh beberapa anak kelas V memanggil
warga untuk membawa Pak bulan ke Puskesmas. Serentak Angin dan beberapa
teman-teman yang lain berlari keluar sekolah sambil meneriakkan “Tolong
Tolong”.
Menunggu
kabar pak Bulan seperti menunggu Ibu hamil yang ingin melahirkan saja, hati ini
begitu cemas menunggu kabar dari Dokter tentang keadaan pak bulan, tapi saat
aku berbalik 180o rasa cemas itu sejenak hilang dan terganti dengan
tawa geli melihat teman-teman kelas yang duduk berbaris yang di pimpin oleh ibu
Matahari seakan ingin menunggu bantuan Raskin dari pemerintah. Hahah..
“Bagaimana
keadaan Pak bulan?” suara pak cahaya terdengar begitu panik. Pak cahaya adalah
guru kesehatan kami, atau lebih jelasnya guru penjaskes yang mengajarkan kita
tentang kesehatan, olahraga sekaligus staf yang mengurus berkas-berkas
disekolahku.
“Pak
Bulan baik-baik saja”. Ucap bapak Dokter Enteng
“Saya
bisa masuk Dok?”
“Silahkan
Pak”. Melihat murid-murid serentak berdiri Pak dokter melanjutkan kalimatnya.
“Tapi
satu atau dua orang saja dulu, karena Pak Bulan Perlu Istirahat” Ucap Pak
Dokter sambil melihat anak-anak yang sangat bahagia mendengar kabar Pak Bulan,
kembali memperlihatkan wajah memalas karena tidak bisa masuk ke ruangan melihat
keadaan Pak Bulan.
Ibu Matahari Dan Pak Cahaya lalu
melangkahkan kaki masuk ke ruangan
tempat Pak Bulan di rawat. Dan kamipun hanya menunggu Ibu Matahari dan Pak
Bulan membawa Kabar jelas tentang keadaan Pak Bulan dan kembali ke rumah
masing-masing.
SEMINGGU
KEMUDIAN
Sudah
Dua hari Pak Bulan kembali mengajar di kelas kami, dan kamipun sangat senang
melihat Pak Bulan yang begitu sehat dengan senyum terbaiknya.
“Bintang!!!
Mengantuk nak?” Sapa Pak Bulan kepadaku yang membuatku tersentak kaget dan
terbangun dari tidur pendekku.
“Iya
pak, semalam kurang tidur karena non….. Kerja tugas pak”. Huft, Hampir
keceplosan kalau semalam tidurku di cicil dulu karena mau nonton Barcelona VS
Real Madrid, hehe..
“Ya
sudah.. agar mengantuknya hilang, pulang sekolah nanti Bintang bisa
membersihkan seluruh kelas ini” Ucap Pak Bulan lembut.
“i..iya..
Pak” jawabku terbata-bata. Huft.. begitu deh cara Pak Bulan menegur kami.
Lembut tapi sama saja dengan guru lain, DIHUKUM!!!!
“Oke
anak-anak, minggu depan hafal surah Al-humazah ya, terutama bintang yang
kemarin belum membayar hafalan surah Al-Waqiahnya. ”
“Iya
Pak”
“Terimakasih
untuk semangat hari ini anak-anak, hati-hati dijalan dan jangan lupa belajar di
rumah ya”
“Iya
Pak”
“Berdiri”
Teriak Angin yang merupakan ketua kelas di kelas V menyuruh semua murid
berdiri. Semua muridpun serentak mengikuti aba-aba dari Angin.
“Beri
Salam”. Aba-Aba lanjutan dari Angin.
“Assalamualaikum
warahmatullahiwabarakatu, Terimakasih Pak Guru”. Kompak anak kelas V yang
diikuti dengan tundukan kepala.
“Waalaikumsalam
Warahmatullahi Wabarakatu” Terimakasih juga Anak-Anak. Balas Pak Bulan dan
langsung meninggalkan kelas V.
Anak
kelas V dengan bahagia meninggalkan kelas terkecuali Aku. Dengan wajah memalas
Aku mengambil sapuh di sudut ruangan kelas lalu memulai menyapu lantai dari
sisi ke sisi dengan keluh kesah yang tak hentinya berucap dari mulutku, Saking
kesalnya Aku tidak mendengar suara yang dari tadi memanggil namaku.
“Bintang..Bintang”
suara yang sangat lembut itu tidak dapat menyadarkanku dari rasa kesal ini.
“hey
BINTANG!!!!!!” Buset!!! Suara pak Bulan bisa keras juga ya, teriakannya saingan
dengan teriakan Awan. Heheh
“iya
pak” sentak badanku berbalik 180o menghadap pak bulan.
“Bintang,
Bapak bisa minta tolong tidak?” Tanya Pak Bulan kepadaku dengan Lembut.
“Iya
Bisa Pak, Ada apa?”.
“Tolong
kamu ke toko kain, belikan bapak Kain Mori ya?” sambil menyodorkan uang
seribuan dan resehan kepadaku.
“Siap pak”. Aku lalu mengambil sepeda yang
terparkir dihalaman sekolah yang dari tadi menungguku sendiri hingga tugasku
membersihkan kelas selesai. “Sepeda yang setia”, Ucapku dalam hati sambil
tersenyum memandang sepeda kesayanganku itu.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 16.20. aku telah berkeliling mencari kain Mori tapi tak
satupun toko yang kudatangi menjual kain mori. Ada rasa kesal dalam dada karena
tidak berhasil mendapatkan apa yang ku inginkan. Tapi apa boleh buat, yang
jelas aku sudah mencari dengan maksimal.
Sesampainya
aku didepan pintu ruangan kepala sekolah, terdengar suara Pak Bulan dan Pak
Cahaya yang sedang berbincang. Tidak ada niat untuk mendengarkan perbincangan kedua
guruku itu, tapi rasa penasaran menjamur dalam
diriku.
“Kemarin
Aku sudah mencari kain mori, tapi hasilnya nihil. Mudah-mudahan Bintang lebih
beruntung dari aku dan bisa mendapatkan kain Mori”. Prakkkkk!!!!!!!!! Hatiku
seakan teriris-iris. Pak Bulan yang sangat berharap banyak padaku ternyata
tidak mendapatkan kain Mori itu juga.
“Pak,
kumohon jangan berfikir hal-hal aneh itu. Kami masih membutuhkan bapak, kami
masih menginginkan bapak ada bersama kami”. Terdengar suara pak Cahaya lirih.
Maksud Pak Cahaya apa? Pak bulan ingin ke mana? Apa Pak Bulan ingin menjadi
kepala sekolah di sekolah lain? Tidak!! Jangan sampai!! Apalagi setelah Pak
Bulan tau aku tidak mendapatkan kain Mori itu, pasti pak Bulan sanagat kecewa
dan akan benar-benar meninggalkan kami.
Aku
tersentak sadar dalam lamunanku mendengar suara Pak Bulan begitu dekat
denganku.
“Bintang,
apakah kamu mendapatkan kain mori?”. Tanya pak bulan kepadaku yang masih
berdiri di balik pintu ruang kepala sekolah.
“ma..maa..maaf
pak, mu..mungkin bapak kee..kecewa.. ta..”. Ucapku batah sambil menundukkan
kepala. Tiba-tiba pak Bulan melanjutkan kalimatku.
“Tapi
apa? Tidak dapat? Tidak apa-apalah”.
“pulang sana, sudah soreh” Ucap pak Bulan
menyuruhku pulang. Dan aku menuruti perkataan Pak Bulan sambil mengucapkan kata
Maaf. Tapi rasa bersalah itu hilang setelah melihat senyum tulus dari wajah Pak
Bulan dan Belaian Tangannya yang mengelus kepalaku.
“Aku
harus mendapatkan kain mori untuk pak Bulan”. Ucapku saat berada di pasar kota.
Hari
ini adalah hari minggu, hari minggu yang berarti hari libur. Dan aku memberanikan
diri kekota bersama Angin dan Awan teman baikku untuk mencari kain mori.
Walaupun pak Bulan tidak menyuruhku lagi untuk membeli kain mori itu, tapi rasa
bersalah tidak menjalankan tanggung jawab dari pak mori terus menggeluti otakku.
“Bu,
ada kain mori bu?” . tanyaku pada ibu penjual kain di pasar kota.
“Adek,
kalau mau cari kain mori jangan disini. Tapi disana”. Ibu penjual kain itu
menunjuk kesalah satu jejeran ruko yang berada di antara ruko alat bangunan dan
ruko makanan ayam. “apa? Beli kain mori di toko itu?”. Tanya ku dalam hati.
Saking tidak percayanya, Awan kembali bertanya ke ibu penjual kain itu.
“Di
toko penjual perlengkapan Mayat bu?”. Tanya Awan dengan nada tidak percaya.
“iya
dek, kesana saja kalau kalian tidak percaya”.
“kita
kesana saja dulu”. sapa Angin kepadaku dan Awan.
Kami lalu menuju toko penjual perlengkapan
mayat tersebut dan langsung bertanya kepada sang penjaga toko apakah toko itu benar
menjual kain mori atau tidak. Kami serentak berpandangan dan memasang wajah
kaget bahwa benar toko tersebut menjual kain mori seperti yang dikatakn ibu
penjual kain tadi.
Dalam
perjalan pulang kedesa, setelah kami bertiga mendapatkan kain mori untuk pak
Bulan, hanya diam yang menghiasi perjalanan kami. Untuk apa pak Bulan sangat
meninginkan kain mori ini?. Suara Angin terdengar membangunkanku dan Awan dalam
lamunan.
“untuk
apa pak Bulan minta di belikan kain ini bintang?”
“Aku
juga kurang tau, toh.. akupun kaget saat tau kalau kain mori itu adalah ini”.
Jawabku sambil menyodorkan kain mori itu kepada Angin.
“jangan
jangan”. Awan menunjukkan ekspresi menakutkan.
“jangan
berfikir negative dulu wan, siapa tau pak Bulan ingin menjadikan kain ini
taplak meja, surban, atau alat peraga untuk praktek kita nanti”. Jawab Angin
yang kembali menyodorkan kain mori itu kepadaku
Aku dan awan serentak menganggukkan kepala
dan kembali bercanda dalam perjalanan pulang seperti saat berangkat tadi. Tapi
kenapa hatiku begitu tidak nyaman? rasanya sangat gelisah, tapi mudah-mudahan
ini bertanda baik. Aamiin ya rabb.
Tidak..
Tidak mungkin.. apa yang ku lihat pasti tidak nyata.. pasti hanya mimpi…
“Angin,
Awan cubit aku”. Suruhku kepada temanku yang ternyata dari tadi ikut berdiri
mematung.
“kita
tidak salah lihat kan Bintang? Awan?”. Tanya Angin juga.
“Pak
Bulaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnn”. Angin berteriak sambil berlari meninggalkanku
dan Awan, begitupun Awan yang ikut menyusul Angin berlari menuju rumah yang
sudah dikerumuni banyak warga dan bendera putih yang mengibar-ngibar seperti
memanggilku untuk ikut masuk ke rumah itu. Tapi kaki ini sangat berat untuk
melangkah, dada ini terasa sangat sesak, tubuh ini bergetar, dan air matapun
menetes tanpa membuatku mengeluarkan suara tangis kehilangan.
“Pak
Bulan, inikah maksud dari kain mori itu?”. Perlahan lututku terasa lemas untuk
menahan badan kecilku.
“Pak
Bulan kenapa secepat ini pak? Kenapa Bapak tidak memberikanku kesempatan untuk
memperlihatkan kepada bapak kalau aku bisa melaksanakan tanggung jawabku?
Kenapa pak? Kenapa???????????”. Hati ini begitu sakit, sakit karena kehilangan
guru sebelum aku membalas jasanya. Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengangkat
badan kecilku yang begitu lemas dan berlari ke rumah yang dari tadi seperti
memanggilku untuk ikut masuk.
“Pak,
bangun pak, Bintang beli kain mori pesanan bapak, bangun pak??”. Sakit.. sakit
sekali tuhan.. kenapa dada ini begitu sesak?. Tanyaku dalam hati, kehilangan
pak Bulan seperti saat aku kehilangan sosok Ayah, bahkan lebih kehilangan.
Mungkin saat aku kehilangan Ayah umurku masih 7 tahun, dan selama itu pak Bulan
yang selalu membimbingku.
“Pak,
tau tidak? Bintang, Awan dan Angin jauh-jauh ke kota pak hanya untuk beli kain
mori ini untuk bapak, kain mori yang bapak sangat inginkan, tapi kenapa bapak
tidak menghargai pengorbanan kami? Bapak pergi sebelum melihat kain mori dari
kami?”. Orang-orang dalam ruangan itu serentak menarikku keluar dari ruangan
melihatku memberontak dalam ruangan duka itu, tapi dadaku tetap saja sesak,
hatiku begitu terpukul.
BAPAK BULAN!!!!!!!!!!!!!!!!!
GURUKU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Walaupun
aku mendapatkan kain mori itu setelah Pak Bulan di panggil ke sisi Tuhan. Aku
ikhlas.. walaupun jasad pak Bulan tidak bersama kami lagi, tapi ajaran pak
Bulan tetap melekat dihati kami semua. Dan Aku janji pak akan menghafal surah
Al-Waqiah dan akan selalu mengirimkan doa-doa untuk bapak agar bapak tenang
disisi Allah bersama hadiah dari kami. Pak Bulan, Guruku, Ayahku adalah sosok
yang harus selalu terlihat kuat, bahkan penyakit kanker otakpun tidak bisa
membuat guruku itu terlihat lemah dan menangis. Pak Pak Bulan adalah orang
pertama yang selalu yakin bahwa “AKU BISA” dalam segala hal walaupun dia tau
kalau aku anak pemalas. Dan kain Mori atau kain kafan seperti bapak inginkan adalah
pakaian terakhir bapak dari kami untuk bertemu dengan sang khalik.
AMBISI BESAR SANG LASKAR AMBISIUS
ü Subyek : Anak
ü Lokasi : Daerah yang kurang terjamah oleh pemerintah
ü POV : (Point Of View) Anak terhadap Pendidikan (Ekonomi yang
mempengaruhi pendidikan anak)
1. Rancangan Tayangan : 30
Menit
2. Pembagian Segment :
·
Teaser : Montage dan narasi awal perkenalan daerah, sekolah subyek dan cita-cita anak.
·
Segment 1 : ( Hubungan anak dengan keluarga dan lingkungannya) : Subyek
anak sebagai pemain Utama menerangkan pola hubungannya dengan keluarga dan
lingkungan sekolah serta cita-citanya yang ingin menjadi penulis
·
Segment 2 : (Anak mulai jarang terlihat disekolah). Karena factor
ekonomi, orang tua memberikan tanggung jawab kepada anak untuk menggantikan
ayahnya berjualan “BALLO” karena penyakit sang ayah (Radang Paru-Paru) semakin
parah.
·
Segment 3 : kekerasan hati anak menolak untuk menggantikan Ayah berjualan
dan ingin kembali kesekolah membuat penyakit Ayah semakin parah dan Meninggal.
· Segment 4 : (Penyesalan Anak) Anak kembali berjualan dan meninggalkan
sekolah demi menafkahi ibu dan adik-adiknya.
· Segment 5 : (saat beristirahat, anak mendengar ibu memanggil) anak tidak
menyangka kedatangan tamu dari kota dan menawarkan kerja sama pembuatan fil
dari naskah film yang di buat anak.
·
Segment 6 : (Alur mundur) anak melihat poster lomba menulis naskah film
nasionalisme dan kepahlawanan yang bertumpuk di pembuangan sampah dan ikut
serta dalam lomba tersebut.
·
Segment 7 : Jumpa pers anak dan kebanggan ibu serta warga desa.
·
Segment 8 : TV lalu dipadamkan, terlihat anak perempuan tersenyum penuh
semangat sambil menjawab panggilan dari ibu untuk kesekolah, anak perempuan
dengan lincahnya memakai tas dan berlari.
ü Scan penutup :
pengambilan gambar layar TV dari jauh hinnga mendekat “TAMAT”
ü Teaser Penutup : Kita
ditakdikan dengan segala perbedaan, ada canti, gagah, tinggi pendek, pinta,
bodoh, kaya, miskin.. jangan jadikan kekayaan kita untuk malas menuntut ilmu
dan menggapai cita-cita karena selalu menggampangkan semua dengan uang. Uang
memang segalanya tapi uang tidak bisa membeli cinta dan pengetahuan.. dan pengetahuan
tidak pernah memandang apakah kita kaya atau miskin, yang penting kita mau
belajar dan berusaha untuk menggapai impian kita.
Teman kita yang tidak mampu saja bisa menggapai cita-citanya, bagaimana
dengan kita yang mampu?
Selasa, 25 Desember 2012
PAST MOMENT
PAST MOMENT
Awalnya semua begitu indah, hanya
ada aku, kamu dan menjadi kita. Kita melalui semuanya bersama, kesedihan, rasa
bahagia, tangisan, canda, semuanya hanya ada kamu aku serta mereka yang sangat
senang melihat kita bahagia dan menjadikan kita couple menjalani hidup bersama
pasangannya.
Aku sebut semuanya tiga tahun,
tiga tahun semua hari kita lalui bersama, baik itu hanya hari biasa maupun hari
special buat orang terdekat kita bahkan semua orang. Lagi-lagi aku kamu dan
mereka yang bahagia melihat kita. Dalam perjalanan tiga tahun itu memang bukan
hanya kebahagiaan saja yang menghiasi hari kita, terkadang banyak sekali onak
dan duri yang membat tangisan, membangkitkan ego tapi itu semua adalah bumbu
agar kita perjalanan kita tidak terasa hambar, semua itu hanya cara Allah
mengajarkan kita agar saling melengkapi satu sama lain dan membuat kita menjadi
dewasa. Dewasa dalam menjalani hidup ini dan melengkapi segala kekurangan yang
kita miliki. Karena manusia diciptakan Allah secara berpasang-pasangan agar
saling melengkapi. Maka dari itu Allah menghadirkan kamu untuk diri ini.
Kamu sosok yang cukup sempurna
buat diriku, kau sosok yang dewasa, dermawan, bijak, dan pengganti Ayahku.
Karena kamu selalu menuntun setiap langkahku agar selalu berjalan di jalan yang
benar. Saat orang tua, keluarga telah melepaskanku dan menyuruhku untuk
berkembang kamu hadir memberikanku semangat agar tetap berjalan menuju cahaya
sambil menggandengku di sampng mu. Senyum tulus itu selalu saja menghiasi
otakku hingga senyum itu yang membuatku semangat untuk menjalani hari-hari yang
sangat rumit ini. Aku cinta kamu bukan karena
apa yang kamu miliki, tapi aku cinta kamu karena sifat mu yang begitu
membuatku bangga memilikimu.
Aku hanya wanita yang penuh
kekurangan yang terkadang tidak merasa pantas memilikimu yang begitu di kagumi
banyak orang. Tapi aku juga tidak dapat membohongi diri ini kalo aku
membutuhkanmu seperti mereka. Bagaimana aku jika kamu tidak pernah masuk dalam
hidupku, menjadi separuh jiwaku, mengisi hatiku yang kosong. Hingga saat ini
pun aku selalu memikoirkan hal itu, hutang budi selalu saja menggeluti otak
ini. Maafkan aku yang terkadang sering keras kepala tak mau mendengarkanmu,
maafkan aku yang seringmembuat mu kesal, maafkan aku yang sering membuat mu marah,
maafkan aku yang sampai saat ini masih mencintaimu.
Tiga tahun tiga bulan tiga hari
semua hari-hari kita lalu bersama, tapi tiga bulan tiga hari itu entah apakah
kamu masih merasakan perasaan yang dulu sejak kita merasjuk kisah bersama atau
semua itu sudah lenyap menjadi kenangan. Sekarang bukan kisah kita lagi, tapi
telah menjadi kisahku.
Aku yang begitu mengangumi,
begitu menyayangimu seakan terabaikan, terabaikan setelah kau kenal dia. Semua
kebohongan yang telah kau buat telah kuterima, mereka yang baru masuk dalam
hidupmu juga telah ku terima menjadi sebagian dari kisahku, tapi hatiku masih
terasa berat. Entah apa yang membuat hati ini terus menangis. Ku terima segala
maumu terutama tentang diriku yang tidak kau sukai, tapi kamu tidak menerima
kalau aku tidak biasa merubahnya begitu saja. Aku hanya manusia biqasa, butuh
proses untuk menghilangkan keras kepala ini. Aku selalu mencoba untuk selalu
mengerti dirimu, tapi kapan kamu mengerti aku? Sakit, sakit sekali mendengar
kisahmu bersama mereka. Terlalu perih.
Apakah kau tau? Mereka yang telah
lama menghiasi hati-harimu secara perlahan menjauh. Tau tidak nkenapa? Karena
kamu secara perlahanpun tidak sadar telah meninggalkan mereka dan menjalani
harimu dengan keluarga kecilmu itu. Aku tidak menyalahkan keluarga kecilmu itu,
tapi please jangan meninggalkan mereka dan membuat mereka yang telah lama
bersamamu, telah setia beramamu perlahan menjauh dan memutuskan tali
silaturahmi. Memang menurutmu dirimu tidak berubah, tetap dengan sikapmu yang
dulu, tapi mereka yang selalu bersamamamu, melewati hari-hari bersamamu,
tertawa bersamamu mengatakan kalau ketidak hadiranmu membuat satu persatu isi rumah ide itu menjadi sepi, dan mungkin
kamu juga merasakan hal itu saat kamu berdiam diri di rumah ide itu, rasa sepi begitu
terasa tidak seperti dulu saat kamu masih menjadi dirimu. Jangan tanyakan
perubahan dirimu pada keluarga kecilmu, karena mereka hanya orang baru yang kau
anggap keluarga .
Silahkan jalani hidupmu, kau
selalu mengatakan aku telah menjadio wanita posesif, apakah kau tidak sadar kau
telah menjadikanku posesif dengan kebohongan yang telah kau rancang. Kau
menyuryhku terima dirimu apa adanya, tapi apakah kamu terima aku apa adanya.
Kau selalu bilang jangan salahkan jika kamu berubah, hei.. kamu sendiri yang
membuat dirimu begitu. Seandainya keluarga kecilmu itu tidak pernah ada tak
akan pernah ada masalah seperti ini.
Tidak pernah kah kamu empati
sedikit saja terhadapku, kenapa kamu melakukan semua itu terhadapku disaat aku
membutuhkan kamu? Sakitku begitu membuatku terpukul, tapi kamu tidak
memberikanku semnagat seperti dulu di saat aku sakit, tapi kamu memberikanku
perih yang semakin dalam. Aku bodoh.. kenapa aku tidak bisa membencimu, kenapa
aku tidak bisa melepaskanmu, lelah hatiku menghadapi sikapmu yang sekarang,
lelah hatiku mengeluarkan air mata untukmu, tapi akupun tak bisa menahan
semuanya karena aku terlalu menyayangimu.
Temanmu dan temanku sering
bertanya padaku bahwa kamu dimana? Kenapa tidak pernah keliatan? Kenapa kamu
tidak pernah bersamaku lagi? Dan kamu terlihat jalan bersama wanita lain. Aku harus jawab apa? Telah banyak yang
bertanya seperti itu, hatikupun sakit ,endengar pertanyaan itu tapi selalu saja
aku menutupi semua dengan senyuman. Aku perempuan mempunyai hati yang peka. Aku
mempunya hati sama seperti kamu dan mereka. Aku lelah mendengar hujatan dari
mereka yang mengenal kita. Hujatan bahwa kamu seligkuh dan aku mau saja
di selingkuhi. Aku lelah………….
Mana kebahagiaan kita dulu? Aku
hanya itu? Seperti dulu bersama mereka yang ikut bahagia bersama kita, bukan
bersama orang yang membuat mereka yang terrsenyum melihat kita bahagia menjadi
semakin menjauh. Aku hanya ingin sifatmu dulu kembali. Kamu yang tidak pernah
membuat orang lain kecewa. Sekarang? Kamu membuat banyak orang kecewa demi
kebahagiaan keluarga kecilmu.
Biarkan hati ini gersang
menjalani hidup ini. Secara perlahan akan aku coba untuk melupakanmu walau
sulit dan membiarkanmu bahagia bersama keluarga kecilmu. Karena nampak kau begitu bahagia bersama
mereka dan aku tidak mau membatasi kebahagianmu, biarkan saja aku yang pergi
dan izinkan aku perlahan menjauh dan mengucapkan selamat tinggal. Akan aku
kubur setiap kenangan kita secara perlahan, dan barkanlah hati ini menangis
sepuasnya melepaskan perpisahan kita.
Sulit sekali untuk melupakanmu,
tapi aku sangat berharap Allah memanggilku secepatnya agar perih kehilanganmu
sudah tidak kurasakan lagi. Berat menjalani hidup tanpamu tidak kurasakan. Aku sayang kamu, aku cinta
kamu dan terima kasih untuk cinta yang kau beri. Terimakasih untuk rasa ini.
12.12.12
Kamis, 13 Desember 2012
DIA DAN AKU - EVO
Dia seperti penerang malamku
Dia seperti penyejuk siangku
Dia tak kusangka dia balas pandanganku
Dia begitu...... jauh di mataku
Dia begitu...... jauh jangkauku
Dia tak kusangka dia balas senyumanku
Kami saling pandang tanpa bicara
Sepertinya dia tahu apa duhatiku tertera
Dan waktu saat itu sungguh mengerti aku
Dan dia berlalu tanpa tau siapa aku..
Aku cukup tau dia... dari sini saja
Aku cukup lihat dia... dari sudut sini saja
Dan aku.. sudah bahagaia seperti ini
Dan dia... sudah sempurna..
Selasa, 27 November 2012
Porsi Ujian Tuhan
Ketika kita ditimpa musibah, bencana,
atau keadaan yang sulit, banyak dari kita yang meratapi nasib dan menyalahkanTuhan.
Kenapa harus saya yang mengalami ini?
Kenapa bukan orang lain saja?
Apa salah saya hingga Tuhan membiarkan saya mengalami musibah ini?
Bagaimana bisa melanjutkan hidupdalam keadaan seperti ini?
Mengapa hidup orang lain tampak begitu mulus dan mudah? Tuhan tidak adil!
Kenapa bukan orang lain saja?
Apa salah saya hingga Tuhan membiarkan saya mengalami musibah ini?
Bagaimana bisa melanjutkan hidupdalam keadaan seperti ini?
Mengapa hidup orang lain tampak begitu mulus dan mudah? Tuhan tidak adil!
Depresi, kecewa, dan putus asa
menghantui diri kita. Namun, jika mau berpikir kembali, bijaksanakah kita kalau
selalu menyalahkan keadaan? Apakah masalah akan selesai jika hanya menyalahkan
keadaan?
Tidak ada suatu apapun yang kebetulan di dunia ini. Segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun kejadian itu, tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan demikian kepada kita. Cermati, sesungguhnya Tuhan ingin Anda mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.
Tidak ada suatu apapun yang kebetulan di dunia ini. Segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun kejadian itu, tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan demikian kepada kita. Cermati, sesungguhnya Tuhan ingin Anda mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.
Tuhan tidak akan memberi cobaan yang
tidak bisa dilewati oleh hamba-Nya. Karena itu, percayalah. Mengapa Tuhan memilih
Anda untuk menjalani keadaan sulit yang Anda rasakan, adalah karena Tuhan tahu
bahwa Anda mampu melewatinya. Jika orang lain yang mengalami apa yang Anda
alami, belum tentu mereka bisa sekuat Anda saat ini.
Setiap kesukaran yang kita alami
adalah semata-mata kesempatan untuk mengasah kita menjadi
pribadi yang lebih kuat. Seorang sarjana bekerja sebagai pegawai kantoran
dengan gaji tiga juta per bulan. Di lain pihak, seorang berijazah SMP mampu
menghidupi keluarga lewat usaha tambak ikan dengan penghasilan berkali lipat.
Ya, kesulitan memperoleh pekerjaan sering kali membuat kita berpikir lebih
keras, bagaimana cara memperoleh uang. Jika setiap masalah kita hadapi dengan pikiran
positif, tentu hasil yang positif juga akan kita dapatkan.
Hidup adalah untuk menyelesaikan
masalah. Meski tampak bahagia di luar, setiap orang pasti memiliki masalah
sendiri. Ada seorang gadis berparas cantik dari keluarga berkecukupan. Apapun
yang ia inginkan hampir selalu didapatkannya. Ia memiliki kekasih yang tampan
dan perhatian, di samping masih banyak pria lain yang juga memujanya.
Bahagiakah hidupnya? Tidak! Kedua orang tuanya telah lama bercerai, jika
bertemu pun sikapnya seperti kucing dan anjing. Masing-masing telah menikah
lagi. Tak ingin memilih salah satu pihak, akhirnya si gadis dan adiknya yang
masih SMA, memilih untuk tinggal berdua saja.
Coba Anda tengok orang-orang yang
tampak bahagia. Pasti akan Anda temukan satu sisi yang membuat orang itu merasa
hidupnya tidak sempurna. Begitu pun dengan diri Anda sendiri. Jika saat ini
Anda merasa punya masalah, selesaikanlah dengan tawakal tanpa pernah mengeluh.
Itulah ujian yang Tuhan berikan sesuai dengan porsi kemampuan
Anda.
Semoga bermanfaat
Semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)