Minggu, 12 Agustus 2012

Sampah itu "Benderah.ku"

Kasihan Benderaku yang teronggok diantara sampah
Sudah menjadi sampahkah benderaku
Atau yang membiarkannya teronggoklah sampah
Sedih aku pada Benderaku
Yang tak lagi dibiarkan berkibar pada tiang
Hanya menyempitkan lemari-lemari penuh sampah
Sudah menjadi sampahkah Benderaku
Atau negeri ini memang penuh sampah..
Sehingga tak lagi bisa membedakan mana Bendera mana sampah
Padahal Proklamasi kemerdekaan ditandai dengan
Dikibarkannya Sang saka Merah putih
Lalu kenapa Benderaku kini ada diantara sampah..
Bukankah merah itu darahku
Putih itu tulangku
Itukan yang engkau katakan..
Lalu kenapa Benderaku menyatu dengan sampah
Apa tidak lagi merah darahmu
Dan tidak lagi putih tulang mu…
Biarpun langit ini akan terbelah
Tetaplah engkau benderaku..
Biarpun bumi ini akan berguncang
Tetaplah engkau Indonesiaku…

Menghormati Yang Puasa itu Biasa, Menghormati Yang Tidak Puasa itu Luar Biasa!


Ada kata-kata yang menurut saya terasa janggal disetiap bulan Ramadhan, dan akibat dari kata-kata ini ada ormas Islam yang rela dengan penuh semangat menggelorakan perjuangan/jihad dengan melakukan sweeping untuk menutup rumah makan, resto siap saji yang membuka lapaknya disiang hari bulan ramadhan, entah apa motivasinya, apakah memang hal tersebut diajarkan oleh rasulullah SAW atau tertulis jelas dalam kitab suci al-Quran sehingga berdasarkan dua sumber dalil ini mereka ingin menegakkan kebenaran. Terkecuali tempat-tempat maksiat, no options menurut saya, namun yang melakukan hal tersebut tentu bukan warga sipil melainkan aparat yang berwenang.
Apa yang mereka lakukan dengan menutup paksa rumah-rumah makan menurut saya sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur ibadah puasa, yaitu sabar/menahan diri. Puasa yang menurut asal bahasanya berarti menahan diri/hawanafsu adalah satu bentuk cara Tuhan menanamkan sifat-sifat mulia ketuhanannya kepada manusia, yaitu sabar, ash-sh-shobuur Sang Maha Penyabar.
Menghormati hak asasi manusia itu perintah Allah, maka orang yang tidak puasa harus merealisasikannya dalam kehidupan social sehari-hari. Namun harus kita akui pula menghormati orang yang tidak puasa juga menjadi bagian dari hal tersebut. Orang yang berpuasa itu butuh ujian, tanpa ujian tentu puasa itu terasa hambar dan tidak bernilai. Dan harus kita sadari pula bahwa orang yang tidak berpuasa pasti memiliki banyak alasan diantaranya:
1. Bukan seorang muslim
2. Mungkin Sedang sakit
3. Tidak kuat berpuasa
4. Orang Islam tetapi lemah iman
5. Bekerja berat dan membutuhkan suplay energy lebih banyak
Mereka tidak membutuhkan kekerasan yang akan berakibat penentangan, penolakan dan caci makim yang mereka butuhkan pengetahuan, penyadaran akan hak masing masing warga Negara.
Selain itu , yang terpenting adalah sesungguhnya panggilan berpuasa itu berlaku khusus, yaitu orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah sudah sangat familiar di telinga kita, yaitu surah al-Baqarah ayat 183. Tujuan utamanya perintah berpuasa pada ayat itu adalah agar orang yang menjalankan ibadah tersebut memiliki sifat taqwa, takut karena cinta kepada Allah.
Menghormati orang yang tidak berpuasa dan membiarkan mereka berjualan sebagaimana hari biasa mencari nafkah merupakan satu bentuk penghargaan terhadap hak setiap manusia. Namun tentunya pemerintahpun harus memiliki kebijakan atas aspirasi sebagian masyarakat yang ingin puasanya tidak terganggu dengan memfasilitasi mereka dengan aturan yang tidak merugikan salah satu pihak, aturan yang adil untuk mereka yang berpuasa dan yang tidak berpuasa. Tentunya hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi clash antar sesama warga Negara, yang akhirnya jika dibiarkan pemerintah juga yang terkena dampaknya, jadi bagaimana caranya pemerintah mengayomi keduanya dalam arti diantara mereka tahu rambu-rambunya, sebagai bentuk toleransi antar dan sesama umat beragama.
So, mari yang sedang berpuasa, hormatilah mereka yang tidak berpuasa, karena itu akan menambah kualitas ibadah kita kepada-Nya.

JIKA INI RAMADHAN TERAKHIRKU

Allah sayang aku…..
Luar biasa sayang-Nya…
Semua tepat pada waktunya….
dalam akhir Dzuhurku tadi…..
Aku bayangkan ….
Mungkin ini Ramadhan terakhirku…..
Allah menjagaku untuk tetap suci, jalankan semua perintah-Nya dalam bulan ini….bulan penuh pengampunan dan pengumpulan amal, badanku tiba-tiba bergetar tak terasa air mata ini tumpah.
Ataukah karena kuingat “mati”ku atau masalah sebelum aku menghadapMU di Dzuhur tadi, aku tak tahu…..yang jelas pikirku berkata…ini adalah Ramadhan terakhirku…
Aku dibiarkan suci tanpa “tamu”ku
Aku Engkau buatkan ujian sebelum Ramadhan ini
Untuk aku bertobat, lebih mendekat padaMU
Karena dengan Mu aku merasa damai….tenang….
Diantara  gelisah, resah akan kehidupan dunia…
Aku khusyu menjalani apa yang menjadi taqdirku, aku serahkan pada-Mu yang membuat semua ini terjadi, doaku semakin kupinta dari-Mu…..aku tenang, aku seolah ada dalam tangan-Mu
Dan masih dalam sujudku……
kutanyakan pada-Mu…..
benarkah yang aku rasa….?
Ini RAMADHAN terkhirku…..?
Jika Iya….sungguh aku bersyukur, karena Engkau ciptakan suasana agar aku lebih dekat dengan-Mu, lebih syahdu ku dendangkan firman-Mu disaat malam-malamku, ketika mata ini, hati ini, tubuh ini tak kompromi atas kelelahan jiwa dan ragaku…terus terjaga, tak lebih karena Ujian-Mu yang begitu menampar kehidupanku.
Dan kemudian di akhiri dengan hari Kemenangan
Dimana aku meminta maaf pada siapapun yang ada saat itu…
Atas segala dosa dan klilafku di dunia….
Allah Sayang padaku ….
Jika semua benar apa yang aku rasa
Di Dzuhurku ini….
Maafku atas salah, dosa dan kekuranganku dalam menjadi “BULAN” mu.
“Bulan itu menerangi ya menerangi aja, gak perlu diminta-minta”
“Dan tau kapan waktunya, mesti terang penuh, terang separo dan kapan mesti tak nampak “
“Aku ingin kamu jadi bulan yang menerangi hatiku “
Untuk sebuah nama yang selalu ada memenuhi setiap sudut rongga di hatiku dengan cinta yang kamu punya, untuk kesetiaan yang kau beri, segala bentuk perhatian, kasih sayang dan kesabaran juga pembelajaran selama ini, aku sangat-sangat beruntung pernah memiliki mu dan menjadi salah satu milikmu yang selalu kamu jaga dengan sangat baik. I LoVe You so much…….titip semua yang telah aku berikan padamu atas ijin dan doa-Nya…

Rabu, 13 Juni 2012

Ayah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja diperantauan, anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,
Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah..
Ketika kamu menjadi gadis dewasa…..Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan….
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu……
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:


“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..
Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
Tapi untuk saya, semua itu hanya khayalan semata. tidak untuk saya Ayah? Ayahku telah tenang di Alam sana, tapi Ayahku akan selalu dihatiku, akan ku perlihatkan kepada Ayahku disana bahwa Gadis Kecilmu ini telah tumbuh besar dan sudah bisa melakukan apa saja, sudah bisa melawan pahitnya Dunia, walaupun Ayah tidak ada disampingku lagi, tapi Ayahku akan selalu ada disetiap langkahku.

Luph U Ayah.

Senin, 21 Mei 2012

Negeri Yang Ramah?

Sekitar tahun 2006, aku pernah berkenalan dengan seorang bule di di Bandung, namanya Pieter Smith. Pieter telah lama berada di Indonesia, bahkan dia ingin menjadi WNI, namun karena prosedur yang agak rumit hingga saat itu Pieter belum bisa mewujudkannya. Aku sedikit heran, mengapa dia ingin menjadi seorang WNI, sedangkan aku, pada saat itu malu untuk mengakui bahwa aku orang Indonesia. Apalagi ketika aku menoleh pada prestasi Indonesia yang sangat tidak dapat dibanggakan.

Pieter menjelaskan, bahwa dia jatuh cinta pada Indonesia sejak pertama kali dia tiba di negeri ini, tepatnya di Bali. Pieter melihat dan merasakan keramahan masyarakat Indonesia. Kemanapun dia melangkah dan kemudian tersesat, selalu ada masyarakat asli yang menolongnya. Pieter bahkan merasa Indonesia seperti tanah kelahirannya sendiri.
Keramahan masyarakat Indonesia, tidak hanya dirasakan oleh Pieter, tapi oleh jutaan bahkan mungkin milyaran wisatawan yang pernah berkunjung ke Indonesia. Keramahan ini pula yang tersebar dari mulut ke mulut, sehingga orang yang awalnya tidak tahu tentang Indonesia, menjadi tertarik dan ingin berkunjung ke Indonesia.
Tapi itu dulu, negeri yang ramah ini secara perlahan berganti jadi negeri yang marah. Seolah-olah setiap masalah yang muncul hanya dapat diselesaikan dengan huru-hara, anarkis, rusuh, tawuran, membakar apa saja yang ada di depan mata dan sederet tindakan “marah” lainnya.

Masalah sepele, bahkan tak jarang hanya masalah remaja (rebutan pacar atau berebut daerah kekuasaan) bisa merembet menjadi masalah orang tua, kemudian menjadi masalah antar desa atau antar etnis. Belum lagi ditambah adanya provokator dan bumbu-bumbu media masa yang terkadang overdosis. masalah pribadi pun bisa menjadi masalah nasional yang dibicarakan dari Sabang sampai Merauke.

Dahulu kala, bila ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin, para pihak duduk bersebelahan, mengutarakan isi hatinya, bermusyawarah, ditengahi tokoh setempat. Namun sekarang, bila ada masalah, diselesaikan dengan perut lapar sehingga otak kekurangan nutrisi dan menjadi malas berfikir, kemudian senjata yang berbicara.

Situasi akan menjadi tambah panas, ketika orang-orang yang ada dalam satu golongan, hanya sekedar membela tanpa melihat duduk permasalahnnya. Misalnya A dari kelompok Satu bermasalah dengan B dari kelompok Dua, orang-orang kelompok Satu akan menyerang B dan kelompok Dua, tanpa mau peduli si A itu yang benar atau salah. Alasan mereka ini demi “solidaritas” sesama kelompok. Konyol dan sangat salah kaprah, saya rasa. Sepertinya keberadaan aparat penegak hukum serta peraturan perundang-undangan hanya dipandang sebelah mata. Seolah-olah mereka tinggal di tengah hutan yang berlaku hukum rimba, siapa kuat secara fisik, dia yang menang.

Solidaritas memang sangat bagus, tapi juga tetap harus melihat apa yang menjadi masalahnya, bela apabila memang pantas untuk di bela, jangan asal membela saja. Hidup ditengah himpitan ekonomi yang kurang bersahabat saja, saya rasa sudah sangan sulit, apa lagi hidup di tengan masyarakatnya yang pemarah.

Bila ditelusuri, ini salah siapa, mungkin hanya berakhir pada saling menyalahkan dan konflik lagi. Mungkin salah si ekonomi, salah si sosial, salah si kemiskinan, salah si tidak sejahtera atau salah pemerintah?

Aku rindu kedamain, aku rindu kebersamaan, aku rindu keramahan negeri ini. Kembalilah ramah Indonesiaku, jangan kau menjadi bangsa yang pemarah.

Sabtu, 28 April 2012

Cinta Terbalut Jilbab

senja, mengibaskan jilbabnya birunya. Cahaya matahari senja tepat menyorot wajahnya. Tapi dia tetap lesu dengan segenggam kecewa. Tangannya menggenggam erat sebuah kalung, dalam hati dia menyesali apa yag telah terjadi.
“Apa yang aku lakukan dengan ini. Maluku mulai surut, aku terlena dengan apa yang aku miliki. Astagfirullah Ya Rabb. apakah aku masih pantas mendapat ampunan-Mu? aku malu ketika aku menghadap-Mu, mengingat apa yang telah terjadi. Aku sempat terkalahkan oleh godaan setan. Ampuni aku Ya Allah. Lindungilah hatiku kembali.” Hingga matahari mulai tak terlihat lagi, tapi Cinta tetap terdiam ditaman kota. Dia ingin merasakan kedamaian itu lagi, sangat damai saat berada bersama Allah, menghayati sepenuhnya nikmat air wudhu yang menyejukkan. Mengadu, menangis, kala bersama-Nya. Menyerahkan semua beban pikiran duniawi pada-Nya. Tapi semenjak pemuda itu datang di kehidupannya. Matanya yang begitu teduh berhasil mencuri perhatian Cinta.
Kembali teringat setahun lalu, ketika kali pertama Cinta bertemu dengannya saat dia mencari sebuah buku terbaru karangan Asma Nadia.
Tak sengaja dia menabrak lengan Cinta yang telah membawa beberapa buku yang akan dibelinya, dengan terkejut Cinta sempat terjebak dalam matanya yang teduh dan begitu memikat. Hingga beberapa detik berlalu baru dia tersadar dari hipnotis mata pemuda tersebut, dan dengan segera Cinta menundukan pandangannya.”maaf saya tak sengaja.”
“yah, tak apa-apa. maaf saya harus pergi.” Dengan tetap menundukan wajahnya, Cinta berjalan menuju kasir. Tanpa Cinta sadari bahwa pemuda tersebut terus menatapnya hingga Cinta keluar dari toko buku Hikmah.
Sesampai di rumah, ternyata rumah sedang kosong. Ayahnya sedang keluar kota, ibunya yang tengah mengunjungi tante di Tegal. Walau perutnya terasa sangat lapar, tapi dia merasa malas untuk makan, berjalan perlahan dia memasuki kamar. Kejadian tadi masih selalu berputar di benaknya, menari-nari menggoda keimanan Cinta. Tatapan pemuda itu yang teduh dan menyejukka. Astagfirullah…
***
Seperti biasanya Cinta selalu terbangun saat suara adzan Subuh di Masjid yang hanya berjarak 50 meter dari rumahnya begitu merdu memecahkan kesunyian kegelapan dan udara yang masih dingin, bahkan mentaripun masih berada dibelahan bumi bagian timur. Cinta membuka matanya perlahan, tak lupa mengucapkan syukur karena Sang Maha Menjaga tetap menjaga malamnya dan masih mengijinkan Cinta membuka mata dan menghirup kesejukan pagi ini.  Ibu selalu saja yang pertama bangun dan sudah mulai sibuk dengan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Aku peluk ibu dari belakang.”Ibu, hemmmm bau masakannya menggoda.”
“Kamu ada-ada saja, sana mandi dan segera shalat subuh, sebentar lagi ibu juga selesai.”
Cinta beranjak ke kamar mandi. Mandi dan tak lupa mengambil air wudhu. Subahanallah, begitu sejuk nikmat-Mu, tapi lagi-lagi bayangan kejadian itu kembali mengusiknya. Pemuda itu yang memiliki tatapan begitu teduh. Cinta mulai takut, jika dia tak mampu menahan perasaan ini. Dia merasa bersalah atas kecerobohannya, yang tidak dapat menjaga pandangannya. Walaupun itu bukan seutuhnya kesalahannya. karena memang tak sengaja. Hari ini tugas kuliah begitu menumpuk, sehingga memaksa Cinta sepulang kuliah mengunjungi perpustakaan untuk mencari bahan makalahnya, dan hal yang tak terduga, ternyata penjaga perpustakaan itu dia. Denyut jantung Cinta berubah dalam hitungan detik menjadi lebih cepat dari biasanya, ada air bening dimatanya. Entah mengapa, tapi dia takut. saat dia telah menemukan buku yang dia cari, Cinta segera menuju ketempat petugas perpustakaan itu, yang tak lain adalah pemuda yang telah membuatnya galau. Cinta tak berani mengangkat wajahnya. Dia selalu tertunduk, dia takut jika pemuda itu tahu bahwa dia yang telah membuat Cinta seperti ini.
“Sepertinya saya pernah bertemu anda, Oh yah saya ingat. Anda adalah wanita yang kemarin tak sengaja saya tabrak di toko buku Hikmah.”
“yah, oh yah maaf, saya harus segera pulang karena tugas kuliah saya sudah menunggu.”  Cinta yakin, pemuda itu merasakan kegugupannya yang ternyata tak mampu dia tutupi. Dengan cepat Cinta melangkah meninggalkan Perpustakaan Nurul hidayah. Astagfirullah…
Dia petugas baru disana, namanya Yusuf. Cinta sempat melihat nama yang tertera di kemejanya. Hari-hari berikutnya, karena Cinta memang suka membaca atau memang itu adalah perpustakaan yang selalu membuatnya nyaman berada di sana. Tak jarang saat cinta membutuhkan ketenangan untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar membaca buku-buku islami, dia akan memilih tinggal disana menghabiskan waktu berjam-jam dari pada di rumah yang tak jarang adiknya sering meminta Cinta mendengarkan curhatnya. Cinta tak sadar kalau pemuda itu slalu memperhatikannya, dan dari kebiasaan memandangi wajah cinta yang putih bersih. Dia memberanikan diri menghampiri cinta dan duduk tepat dihadapan Cinta.
“Kamu suka baca buku yah cinta?”
“Kamu tahu nama saya. Iyah saya lebih suka bersahabat dengan buku-buka ini daripada keramaian.” Cinta tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari tulisan yang ada dihadapannya.
“Apakah kehadiranku mengganggumu?”
“Oh tidak, sama sekali tak menggangguku” Cinta takut untuk menatap Yusuf, karena dia takut Yusuf bisa membaca ketegangannya.
“Aku hanya ingin menitipkan ini.” Yusuf hanya meninggalkan sepucuk surat dan kotak jingga mungil yang kini berada tepat di hadapan Cinta, lalu Yusuf pergi meninggalkan perpustakaan itu karena memang jam tugasnya telah selesai.
Saat Yusuf berjalan meninggalkan perpustakaan. Cinta baru berani memandang tubuh yang tinggi dengan penampilan sederhananya berjalan meninggalkan sesuatu yang kini berada di hadapannya, dengan ragu Cinta menggapai surat itu. Tak dia pungkiri jika ternyata dia gugup dan sedikit ragu dia mulai membaca.
Aku tak mengerti apa yang ada di hati ini
Setelah kejadian sebulan yang lalu di toko buku hikmah
Aku tak menyangka Allah mempertemukanku denganmu lagi disini
Saat hari kerja  pertamaku
Aku lihat dari jarak 10 meter seorang wanita dengan rock coklat, blus merah muda dan terbalut jilbab jingga
Kamu menarik perhatianku
Saat kau mengampiriku untuk menunjukan buku yang akan kamu pinjam
Aku tahu, namamu Cinta
Memang nama itu cocok untuk wanita semanis dirimu
Aku tahu surat ini lancang, tapi aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa aku selalu tak bisa mengalihkan pandanganku darimu
Ini tak seindah dirimu, tapi aku yakin ini Cantik untukmu Cinta.
Semoga Allah selalu menuntunmu

Yusuf
Cinta memberanikan diri membuka kotak kecil itu. Ternyata sebuah kalung putih dengan sebuah hati bermata cantik berkilau. Ada kertas kecil di dalamnya. “tolong kamu jaga”. Yusuf, nama itu yang pertama mencoba mengetuk hatiku. Cinta bahkan tak tahu, apakah dia masih berani bertemu Yusuf lagi.
Seminggu sudah Cinta tak berani mengunjungi perpustakaan itu, hanya saja makalahnya yang memaksanya untuk kembali kesana. Saat pertama kali masuk, ada hawa yang tak lagi dia rasakan nyaman.  Dia tahu bahwa dari pertama dia masuk, Yusuf telah memperhatikannya, hingga akhirnya Cinta tak bisa menghindar dari Yusuf, karena dia harus menunjukkan buku yang akan dia pinjam. Tak ada perkataan yang mampu keluar dari mulut mereka berdua, tapi Cinta ternyata memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya, dan yang tak diinginkan pun terjadi, mata mereka bertemu, dengan segera Cinta menunduk dan mengambil buku yang dia pinjam dan berjalan cepat meninggalkan Yusuf.
“Cinta…”  Dengan setengah berteriak Yusuf berusaha menghentikan langkah Cinta, tapi tak sedikitpun cinta memperlambat langkahnya.
Dengan lirih Yusuf berkata “Maafkan aku”.
Beberapa hari kemudian Cinta mengembalikan buku yang dia pinjam, terselip secarik kertas jingga didalamnya. Dengan takut Yusuf membacanya.
Maafkan aku yang tak bisa mengendalikan pandanganku
Yang tak bisa meneguhkan hatiku,
Bahkan saat ini aku tak bisa menjaga perkataanku
Bahwa aku takut saat aku bertemu kamu
Aku takut tak mampu mengendalikan hatiku
Maafkan aku, biarkan saat ini aku menikmati kesendirianku
Jika aku Diciptakan oleh-Nya untukmu
Maka suatu hari engkau akan mengenalku lebih dari ini

Cinta
***
Saat Cinta melihat jam di handphonenya, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat. Akhirnya dia menyadari bahwa inilah yang terbaik. Dan bukankah setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu Cinta lebih memilih sedikit menjauh dari Yusuf. Bukan berarti dia tak menaruh hati pada Yusuf, tapi karena dia sendiri takut terkalahkan olah perasaan itu, yang memang menurut Cinta belum waktunya dia memikirkan itu. Biarkan waktu yang akan jawab semua yang ada di benaknya ataupun pertanyaan-pertanyaan Yusuf yang tak mampu terjawab olehnya. Aku masih ingin sendiri dan menyerahkan hati pada-Nya.

CRITICAL REVIEW PERKEMBANGAN MEDIA CETAK

Di Era yang dapatkitakatakan Modern ini, setelahmunculnya media-media yang berupa media elektronik, media cetaksemakinditerbelakangkan.Dapatkitaperhatikanbahwabelakanganini media cetak di Indonesia mengalamikemundurandalamsisisikulasi. Dan karenakurangdiperhatikannya media cetakkarenakemunculan media elektronik yang lebihpraktis, banyak Media-media yang gencxar-gencarnyamelakukan program penjualansecaraagresifmelaluimekanismeJualMurah.
Melihat Media cetaksekarangini, sangatterbelakangsemenjakadanya media online atau media elektronik.Menagapademikian, karenamunculnya portal-portal yang dapatmemudahkanmengaksesberitabahkanbukupundenganmudahdapatkitamiliki.Adapunseperti Media Blog sebagai alternative mencaridantempatuntukberbagiinformasi.Inimenandakanbahwaarusinformasimelalui internet sangatgencardanmenjadisalahsatubatusandunganbagi media cetak.
Media Online secarabertahaptelahbanyakmerugikan media cetak.Namun, di balikmenurunnyaperforma media cetak di duniakhususnya di Indonesia, bukanhanyakarenalagitrennya portal-portal beritamaupun Blog yang ikutmewarnaiarusinformasi, tapiadapuninformasi yang bisadidapatkanmelalui media elektronik lain seperti TV dan Radio.
Media cetaksekaranginilebihmenyediakanporsi yang besarkepadaiklan yang menjadipemasukanfinansialbagimereka, secaratudaklangsunginimenurunkanperformakuantitasdankualitasberita yang menjadiberitautamabagi media cetak.Bahkanadabeberapa  media yang dapatdiakomodirolehsuatukepentingansehinggatidakindependenlagi.
Tantanga media cetaksekaranginibukanbagaimanacarauntukmenjadisaingandari media elektronikseperti media online yang semakinmudauntuk di browsing, tapibagaimanacaramedicetakuntukmembuatinovasidanterobosanbarudengancaramenyelaraskandenganteknologi internet yang menjadikeunggulan media online.