Rabu, 13 Juni 2012

Ayah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja diperantauan, anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja….
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,
Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah..
Ketika kamu menjadi gadis dewasa…..Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan….
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu……
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya….
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:


“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…
Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..
Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
Tapi untuk saya, semua itu hanya khayalan semata. tidak untuk saya Ayah? Ayahku telah tenang di Alam sana, tapi Ayahku akan selalu dihatiku, akan ku perlihatkan kepada Ayahku disana bahwa Gadis Kecilmu ini telah tumbuh besar dan sudah bisa melakukan apa saja, sudah bisa melawan pahitnya Dunia, walaupun Ayah tidak ada disampingku lagi, tapi Ayahku akan selalu ada disetiap langkahku.

Luph U Ayah.

Senin, 21 Mei 2012

Negeri Yang Ramah?

Sekitar tahun 2006, aku pernah berkenalan dengan seorang bule di di Bandung, namanya Pieter Smith. Pieter telah lama berada di Indonesia, bahkan dia ingin menjadi WNI, namun karena prosedur yang agak rumit hingga saat itu Pieter belum bisa mewujudkannya. Aku sedikit heran, mengapa dia ingin menjadi seorang WNI, sedangkan aku, pada saat itu malu untuk mengakui bahwa aku orang Indonesia. Apalagi ketika aku menoleh pada prestasi Indonesia yang sangat tidak dapat dibanggakan.

Pieter menjelaskan, bahwa dia jatuh cinta pada Indonesia sejak pertama kali dia tiba di negeri ini, tepatnya di Bali. Pieter melihat dan merasakan keramahan masyarakat Indonesia. Kemanapun dia melangkah dan kemudian tersesat, selalu ada masyarakat asli yang menolongnya. Pieter bahkan merasa Indonesia seperti tanah kelahirannya sendiri.
Keramahan masyarakat Indonesia, tidak hanya dirasakan oleh Pieter, tapi oleh jutaan bahkan mungkin milyaran wisatawan yang pernah berkunjung ke Indonesia. Keramahan ini pula yang tersebar dari mulut ke mulut, sehingga orang yang awalnya tidak tahu tentang Indonesia, menjadi tertarik dan ingin berkunjung ke Indonesia.
Tapi itu dulu, negeri yang ramah ini secara perlahan berganti jadi negeri yang marah. Seolah-olah setiap masalah yang muncul hanya dapat diselesaikan dengan huru-hara, anarkis, rusuh, tawuran, membakar apa saja yang ada di depan mata dan sederet tindakan “marah” lainnya.

Masalah sepele, bahkan tak jarang hanya masalah remaja (rebutan pacar atau berebut daerah kekuasaan) bisa merembet menjadi masalah orang tua, kemudian menjadi masalah antar desa atau antar etnis. Belum lagi ditambah adanya provokator dan bumbu-bumbu media masa yang terkadang overdosis. masalah pribadi pun bisa menjadi masalah nasional yang dibicarakan dari Sabang sampai Merauke.

Dahulu kala, bila ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin, para pihak duduk bersebelahan, mengutarakan isi hatinya, bermusyawarah, ditengahi tokoh setempat. Namun sekarang, bila ada masalah, diselesaikan dengan perut lapar sehingga otak kekurangan nutrisi dan menjadi malas berfikir, kemudian senjata yang berbicara.

Situasi akan menjadi tambah panas, ketika orang-orang yang ada dalam satu golongan, hanya sekedar membela tanpa melihat duduk permasalahnnya. Misalnya A dari kelompok Satu bermasalah dengan B dari kelompok Dua, orang-orang kelompok Satu akan menyerang B dan kelompok Dua, tanpa mau peduli si A itu yang benar atau salah. Alasan mereka ini demi “solidaritas” sesama kelompok. Konyol dan sangat salah kaprah, saya rasa. Sepertinya keberadaan aparat penegak hukum serta peraturan perundang-undangan hanya dipandang sebelah mata. Seolah-olah mereka tinggal di tengah hutan yang berlaku hukum rimba, siapa kuat secara fisik, dia yang menang.

Solidaritas memang sangat bagus, tapi juga tetap harus melihat apa yang menjadi masalahnya, bela apabila memang pantas untuk di bela, jangan asal membela saja. Hidup ditengah himpitan ekonomi yang kurang bersahabat saja, saya rasa sudah sangan sulit, apa lagi hidup di tengan masyarakatnya yang pemarah.

Bila ditelusuri, ini salah siapa, mungkin hanya berakhir pada saling menyalahkan dan konflik lagi. Mungkin salah si ekonomi, salah si sosial, salah si kemiskinan, salah si tidak sejahtera atau salah pemerintah?

Aku rindu kedamain, aku rindu kebersamaan, aku rindu keramahan negeri ini. Kembalilah ramah Indonesiaku, jangan kau menjadi bangsa yang pemarah.

Sabtu, 28 April 2012

Cinta Terbalut Jilbab

senja, mengibaskan jilbabnya birunya. Cahaya matahari senja tepat menyorot wajahnya. Tapi dia tetap lesu dengan segenggam kecewa. Tangannya menggenggam erat sebuah kalung, dalam hati dia menyesali apa yag telah terjadi.
“Apa yang aku lakukan dengan ini. Maluku mulai surut, aku terlena dengan apa yang aku miliki. Astagfirullah Ya Rabb. apakah aku masih pantas mendapat ampunan-Mu? aku malu ketika aku menghadap-Mu, mengingat apa yang telah terjadi. Aku sempat terkalahkan oleh godaan setan. Ampuni aku Ya Allah. Lindungilah hatiku kembali.” Hingga matahari mulai tak terlihat lagi, tapi Cinta tetap terdiam ditaman kota. Dia ingin merasakan kedamaian itu lagi, sangat damai saat berada bersama Allah, menghayati sepenuhnya nikmat air wudhu yang menyejukkan. Mengadu, menangis, kala bersama-Nya. Menyerahkan semua beban pikiran duniawi pada-Nya. Tapi semenjak pemuda itu datang di kehidupannya. Matanya yang begitu teduh berhasil mencuri perhatian Cinta.
Kembali teringat setahun lalu, ketika kali pertama Cinta bertemu dengannya saat dia mencari sebuah buku terbaru karangan Asma Nadia.
Tak sengaja dia menabrak lengan Cinta yang telah membawa beberapa buku yang akan dibelinya, dengan terkejut Cinta sempat terjebak dalam matanya yang teduh dan begitu memikat. Hingga beberapa detik berlalu baru dia tersadar dari hipnotis mata pemuda tersebut, dan dengan segera Cinta menundukan pandangannya.”maaf saya tak sengaja.”
“yah, tak apa-apa. maaf saya harus pergi.” Dengan tetap menundukan wajahnya, Cinta berjalan menuju kasir. Tanpa Cinta sadari bahwa pemuda tersebut terus menatapnya hingga Cinta keluar dari toko buku Hikmah.
Sesampai di rumah, ternyata rumah sedang kosong. Ayahnya sedang keluar kota, ibunya yang tengah mengunjungi tante di Tegal. Walau perutnya terasa sangat lapar, tapi dia merasa malas untuk makan, berjalan perlahan dia memasuki kamar. Kejadian tadi masih selalu berputar di benaknya, menari-nari menggoda keimanan Cinta. Tatapan pemuda itu yang teduh dan menyejukka. Astagfirullah…
***
Seperti biasanya Cinta selalu terbangun saat suara adzan Subuh di Masjid yang hanya berjarak 50 meter dari rumahnya begitu merdu memecahkan kesunyian kegelapan dan udara yang masih dingin, bahkan mentaripun masih berada dibelahan bumi bagian timur. Cinta membuka matanya perlahan, tak lupa mengucapkan syukur karena Sang Maha Menjaga tetap menjaga malamnya dan masih mengijinkan Cinta membuka mata dan menghirup kesejukan pagi ini.  Ibu selalu saja yang pertama bangun dan sudah mulai sibuk dengan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Aku peluk ibu dari belakang.”Ibu, hemmmm bau masakannya menggoda.”
“Kamu ada-ada saja, sana mandi dan segera shalat subuh, sebentar lagi ibu juga selesai.”
Cinta beranjak ke kamar mandi. Mandi dan tak lupa mengambil air wudhu. Subahanallah, begitu sejuk nikmat-Mu, tapi lagi-lagi bayangan kejadian itu kembali mengusiknya. Pemuda itu yang memiliki tatapan begitu teduh. Cinta mulai takut, jika dia tak mampu menahan perasaan ini. Dia merasa bersalah atas kecerobohannya, yang tidak dapat menjaga pandangannya. Walaupun itu bukan seutuhnya kesalahannya. karena memang tak sengaja. Hari ini tugas kuliah begitu menumpuk, sehingga memaksa Cinta sepulang kuliah mengunjungi perpustakaan untuk mencari bahan makalahnya, dan hal yang tak terduga, ternyata penjaga perpustakaan itu dia. Denyut jantung Cinta berubah dalam hitungan detik menjadi lebih cepat dari biasanya, ada air bening dimatanya. Entah mengapa, tapi dia takut. saat dia telah menemukan buku yang dia cari, Cinta segera menuju ketempat petugas perpustakaan itu, yang tak lain adalah pemuda yang telah membuatnya galau. Cinta tak berani mengangkat wajahnya. Dia selalu tertunduk, dia takut jika pemuda itu tahu bahwa dia yang telah membuat Cinta seperti ini.
“Sepertinya saya pernah bertemu anda, Oh yah saya ingat. Anda adalah wanita yang kemarin tak sengaja saya tabrak di toko buku Hikmah.”
“yah, oh yah maaf, saya harus segera pulang karena tugas kuliah saya sudah menunggu.”  Cinta yakin, pemuda itu merasakan kegugupannya yang ternyata tak mampu dia tutupi. Dengan cepat Cinta melangkah meninggalkan Perpustakaan Nurul hidayah. Astagfirullah…
Dia petugas baru disana, namanya Yusuf. Cinta sempat melihat nama yang tertera di kemejanya. Hari-hari berikutnya, karena Cinta memang suka membaca atau memang itu adalah perpustakaan yang selalu membuatnya nyaman berada di sana. Tak jarang saat cinta membutuhkan ketenangan untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar membaca buku-buku islami, dia akan memilih tinggal disana menghabiskan waktu berjam-jam dari pada di rumah yang tak jarang adiknya sering meminta Cinta mendengarkan curhatnya. Cinta tak sadar kalau pemuda itu slalu memperhatikannya, dan dari kebiasaan memandangi wajah cinta yang putih bersih. Dia memberanikan diri menghampiri cinta dan duduk tepat dihadapan Cinta.
“Kamu suka baca buku yah cinta?”
“Kamu tahu nama saya. Iyah saya lebih suka bersahabat dengan buku-buka ini daripada keramaian.” Cinta tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari tulisan yang ada dihadapannya.
“Apakah kehadiranku mengganggumu?”
“Oh tidak, sama sekali tak menggangguku” Cinta takut untuk menatap Yusuf, karena dia takut Yusuf bisa membaca ketegangannya.
“Aku hanya ingin menitipkan ini.” Yusuf hanya meninggalkan sepucuk surat dan kotak jingga mungil yang kini berada tepat di hadapan Cinta, lalu Yusuf pergi meninggalkan perpustakaan itu karena memang jam tugasnya telah selesai.
Saat Yusuf berjalan meninggalkan perpustakaan. Cinta baru berani memandang tubuh yang tinggi dengan penampilan sederhananya berjalan meninggalkan sesuatu yang kini berada di hadapannya, dengan ragu Cinta menggapai surat itu. Tak dia pungkiri jika ternyata dia gugup dan sedikit ragu dia mulai membaca.
Aku tak mengerti apa yang ada di hati ini
Setelah kejadian sebulan yang lalu di toko buku hikmah
Aku tak menyangka Allah mempertemukanku denganmu lagi disini
Saat hari kerja  pertamaku
Aku lihat dari jarak 10 meter seorang wanita dengan rock coklat, blus merah muda dan terbalut jilbab jingga
Kamu menarik perhatianku
Saat kau mengampiriku untuk menunjukan buku yang akan kamu pinjam
Aku tahu, namamu Cinta
Memang nama itu cocok untuk wanita semanis dirimu
Aku tahu surat ini lancang, tapi aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa aku selalu tak bisa mengalihkan pandanganku darimu
Ini tak seindah dirimu, tapi aku yakin ini Cantik untukmu Cinta.
Semoga Allah selalu menuntunmu

Yusuf
Cinta memberanikan diri membuka kotak kecil itu. Ternyata sebuah kalung putih dengan sebuah hati bermata cantik berkilau. Ada kertas kecil di dalamnya. “tolong kamu jaga”. Yusuf, nama itu yang pertama mencoba mengetuk hatiku. Cinta bahkan tak tahu, apakah dia masih berani bertemu Yusuf lagi.
Seminggu sudah Cinta tak berani mengunjungi perpustakaan itu, hanya saja makalahnya yang memaksanya untuk kembali kesana. Saat pertama kali masuk, ada hawa yang tak lagi dia rasakan nyaman.  Dia tahu bahwa dari pertama dia masuk, Yusuf telah memperhatikannya, hingga akhirnya Cinta tak bisa menghindar dari Yusuf, karena dia harus menunjukkan buku yang akan dia pinjam. Tak ada perkataan yang mampu keluar dari mulut mereka berdua, tapi Cinta ternyata memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya, dan yang tak diinginkan pun terjadi, mata mereka bertemu, dengan segera Cinta menunduk dan mengambil buku yang dia pinjam dan berjalan cepat meninggalkan Yusuf.
“Cinta…”  Dengan setengah berteriak Yusuf berusaha menghentikan langkah Cinta, tapi tak sedikitpun cinta memperlambat langkahnya.
Dengan lirih Yusuf berkata “Maafkan aku”.
Beberapa hari kemudian Cinta mengembalikan buku yang dia pinjam, terselip secarik kertas jingga didalamnya. Dengan takut Yusuf membacanya.
Maafkan aku yang tak bisa mengendalikan pandanganku
Yang tak bisa meneguhkan hatiku,
Bahkan saat ini aku tak bisa menjaga perkataanku
Bahwa aku takut saat aku bertemu kamu
Aku takut tak mampu mengendalikan hatiku
Maafkan aku, biarkan saat ini aku menikmati kesendirianku
Jika aku Diciptakan oleh-Nya untukmu
Maka suatu hari engkau akan mengenalku lebih dari ini

Cinta
***
Saat Cinta melihat jam di handphonenya, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 19.30 waktu setempat. Akhirnya dia menyadari bahwa inilah yang terbaik. Dan bukankah setiap orang berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu Cinta lebih memilih sedikit menjauh dari Yusuf. Bukan berarti dia tak menaruh hati pada Yusuf, tapi karena dia sendiri takut terkalahkan olah perasaan itu, yang memang menurut Cinta belum waktunya dia memikirkan itu. Biarkan waktu yang akan jawab semua yang ada di benaknya ataupun pertanyaan-pertanyaan Yusuf yang tak mampu terjawab olehnya. Aku masih ingin sendiri dan menyerahkan hati pada-Nya.

CRITICAL REVIEW PERKEMBANGAN MEDIA CETAK

Di Era yang dapatkitakatakan Modern ini, setelahmunculnya media-media yang berupa media elektronik, media cetaksemakinditerbelakangkan.Dapatkitaperhatikanbahwabelakanganini media cetak di Indonesia mengalamikemundurandalamsisisikulasi. Dan karenakurangdiperhatikannya media cetakkarenakemunculan media elektronik yang lebihpraktis, banyak Media-media yang gencxar-gencarnyamelakukan program penjualansecaraagresifmelaluimekanismeJualMurah.
Melihat Media cetaksekarangini, sangatterbelakangsemenjakadanya media online atau media elektronik.Menagapademikian, karenamunculnya portal-portal yang dapatmemudahkanmengaksesberitabahkanbukupundenganmudahdapatkitamiliki.Adapunseperti Media Blog sebagai alternative mencaridantempatuntukberbagiinformasi.Inimenandakanbahwaarusinformasimelalui internet sangatgencardanmenjadisalahsatubatusandunganbagi media cetak.
Media Online secarabertahaptelahbanyakmerugikan media cetak.Namun, di balikmenurunnyaperforma media cetak di duniakhususnya di Indonesia, bukanhanyakarenalagitrennya portal-portal beritamaupun Blog yang ikutmewarnaiarusinformasi, tapiadapuninformasi yang bisadidapatkanmelalui media elektronik lain seperti TV dan Radio.
Media cetaksekaranginilebihmenyediakanporsi yang besarkepadaiklan yang menjadipemasukanfinansialbagimereka, secaratudaklangsunginimenurunkanperformakuantitasdankualitasberita yang menjadiberitautamabagi media cetak.Bahkanadabeberapa  media yang dapatdiakomodirolehsuatukepentingansehinggatidakindependenlagi.
Tantanga media cetaksekaranginibukanbagaimanacarauntukmenjadisaingandari media elektronikseperti media online yang semakinmudauntuk di browsing, tapibagaimanacaramedicetakuntukmembuatinovasidanterobosanbarudengancaramenyelaraskandenganteknologi internet yang menjadikeunggulan media online.

Rabu, 18 April 2012

Ikhlas

Salah seorang tetangga meninggal.. salah satu sahabat dekat adikku.
Subhanallah... usianya masih muda, belum sempat lulus SMA.
Ah... ceritanya lain kalau dia masih hidup, dan melanjutkan hidupnya.

Terlalu banyak hikmah yang terjadi dengan adanya kematian.

-Semua keluarga, kerabat, tetangga, teman, sahabat, kumpul jadi satu di satu rumah, menangis kehilangan, dan mendoakan almarhum

-Semua orang yang berada di rumah duka. berpikir kembali, siapakah yang akan dipanggil Allah SWT selanjutnya? apakah aku atau kamu? Sudah siapkah kita dengan panggilannya? sudah siapkah keluarga kita menerima kematian kita ditempat apapun dengan keadaan apapun? Akhirnya satu persatu pulang dengan hati teriris, belum... belum banyak yang kita siapkan untuk kematian, kita pun belum siap menerima keluarga kita meninggal dalam keadaan apapun. Dan ini saatnya untuk menyiapkan semuanya.

-Kembali lagi teringat-ingat kehidupan hanya sementara. sudah sepatutnya kita melakukan segala hal dengan perhitungan akhirat. Bukan perhitungan dunia.

-Ikhlas. kita harus belajar ikhlas, lebih lagi. lebih lagi dan lebih. Agar tak ada tangisan keluar dari diri kita. Karena almarhum pun juga tak ingin ditangisi. Ia hanya ingin didoakan agar jalannya lurus dan selalu dilindungi Allah SWT

Kamis, 29 Maret 2012

Tanpa Kalian


Telah banyak hal yang telah ku lalui, berbagai macam bentuk keceriaan dan tangisan yang telah aku buat dan aku lihat, tapi belum kuketahui arah dan tujuanku untuk menjalani hidup yang penuh dengan onak dan duri ini.
Inilah teka-teki hidup, bahkan aku masih sulit untuk memahami diriku sendiri. Seperti apa saya? Kenapa sih saya begini? Apakah saya harus seperti ini? Benarkah yang saya lakukan ini? ehmmmm.. selalu ingin menjadi yang tebaik, walaupun sebenarnya aku bukan siapa-siapa, tidak ada artinya aku disbanding dengan mereka yang selalu ada disekelilingku. Aku hanyalah bulan yang gelap jika tidak diberikan cahaya oleh bintang.
Benar kata dia, akan seperti apa aku jika tidak ada dia yang selalu menuntun langkahku ke jalan yang lebih baik, jadi apa aku jika dia tidak ada disampingku, akan jadi apa aku jika mereka hilang dari kehidupanku. Duniaku yang kemarin sangat redup dan tak pernah bersinar, sekarang mulai bercahaya karena bintang-bintang yang ada disekitarku. Mungkiin saat ini aku belum bisa melakukan apa-apa, tapi aku takkan melupakan segala kesusahan yang telah aku berikan untuk kalian, begitupun dengan senyuman yang selalu kalian berikan untuk aku.
Fikranku tidak pernah terlepas dari rasa ketakutanku bagaimana jika tidak ada kamu yang selalu menuntun langkahku, tapi saya selalu berfikir kalau saya selalu memberikan motivasi untuk orang lain akan menjalani hidup ini, saya juga harus berani berjalan sendiri dalam kegelapan ini walaupun sangat menakutkan untukku. Tapi jika saya tidak membebaskan fikiran saya, saya tidak mungkin mencapai keinginan saya untuk mengenggam kesuksesan ditanganku, agar aku bisa membuktikan kepada mereka yang selalu memandang sebelah mata diriku dan keluargaku bahwa saya bisa sukses bahkan melebihi mereka.
Mungkin, mereka memperburuk suasana di gua pikiran mereka tentang kami,dengan membiarkan kekhawatiran, kedengkian dan nafsu bekembang besar dan kuat untuk menentukan bentuk dan warna dari kata-kata yang mereka buat sendiri tanpa fakta. Itu sebabnya kita harus mebebaskan pikiran kita dari hal-hal yang tidak baik, agar hanya kebaikanlah yang tersisa dalam dipikiran kita. Dan bila hanya kebaikan yang mengisi pikiran kita. maka baiklah pengertian kita

Rabu, 14 Maret 2012

CRITICAL REVIUW II


Sejarah Perkembangan Komunikasi Massa
Seiring perkembangan zaman, Media juga terus berkembang memberikan kesempatan kepada jutaan manusia diseluruh dunia saling berhubungan dengan nyaris dengan seluruh tempat dimuka bumi tanpa harus terbatasi lagi oleh ruang dan waktu, serta serempak juga memberikan kesempatan untuk berinteraksi melalui media massa. Suatu kondisi yang nyaris serupa dengan kehidupan didesa, dimana masyarakat desa saling berkomunikasi dengan mudah dalam relasi social.
Perkembangan komunikasi massa tidak dapat dipungkiri telah banyak membantu umat manusia untuk mengatasi berbagai hambatan dalam berkomunikasi. Kita dapat mengetahui apa yang terjadi diseluruh dunia jauh lebih cepat, bahkan kita sendiri lebih tau apa yang terjadi diluar negeri dari pada masyarakatnya sendiri.
Kita ketahui bahwa pada awalnya, kegiatan komunikasi massa hanya dilakukan oleh majalah dan surat kabar, tapi tentu ada rasa tidak ingin ketinggalan dengan perkembangan zaman sehingga seiring komunikasi massa berkembang menjadi Radi, TV, hingga internet seperti yang kita lakukan setiapa saat. Jika kita fikir bahkan liat sepintas, bahwa banyak sekali keuntungan setelah berkembangnya komunikasi massa, salah satunya yaitu kita sudah tidak ketinggalan akan pentingnya informasi, bahkan informasi diluar negeripun sangat gampang untuk kita dapatkan. Tapi mungkin sebagian orang sadar akan dampak negatife dari berkembangnya komunikasi Massa, kita bisa lihat sekarang ini, begitu gampangnya budaya-budaya barat masuk kedalam Indonesia, itu karena apa? Karena Media komunikasi Massa yang sudah sangat mudah untuk diakses.
Jadi kita sebagai generasi muda, bagaimana cara kita memperkenalkan komunikasi massa kepada anak cucu kita nanti dengan positif, dan memilah-milah apa yang seharusnya bisa kita ajarkan untuk perkembangan generasi muda kita nanti dengan cara yang positif tapi tetap Up to date dengan Informasi-informasi.