Kamis, 13 Desember 2012
Selasa, 27 November 2012
Porsi Ujian Tuhan
Ketika kita ditimpa musibah, bencana,
atau keadaan yang sulit, banyak dari kita yang meratapi nasib dan menyalahkanTuhan.
Kenapa harus saya yang mengalami ini?
Kenapa bukan orang lain saja?
Apa salah saya hingga Tuhan membiarkan saya mengalami musibah ini?
Bagaimana bisa melanjutkan hidupdalam keadaan seperti ini?
Mengapa hidup orang lain tampak begitu mulus dan mudah? Tuhan tidak adil!
Kenapa bukan orang lain saja?
Apa salah saya hingga Tuhan membiarkan saya mengalami musibah ini?
Bagaimana bisa melanjutkan hidupdalam keadaan seperti ini?
Mengapa hidup orang lain tampak begitu mulus dan mudah? Tuhan tidak adil!
Depresi, kecewa, dan putus asa
menghantui diri kita. Namun, jika mau berpikir kembali, bijaksanakah kita kalau
selalu menyalahkan keadaan? Apakah masalah akan selesai jika hanya menyalahkan
keadaan?
Tidak ada suatu apapun yang kebetulan di dunia ini. Segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun kejadian itu, tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan demikian kepada kita. Cermati, sesungguhnya Tuhan ingin Anda mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.
Tidak ada suatu apapun yang kebetulan di dunia ini. Segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Sekecil apapun kejadian itu, tentu merupakan kehendak-Nya. Tuhan selalu punya alasan mengapa Dia memberikan keadaan demikian kepada kita. Cermati, sesungguhnya Tuhan ingin Anda mempelajari hikmah dari kejadian tersebut.
Tuhan tidak akan memberi cobaan yang
tidak bisa dilewati oleh hamba-Nya. Karena itu, percayalah. Mengapa Tuhan memilih
Anda untuk menjalani keadaan sulit yang Anda rasakan, adalah karena Tuhan tahu
bahwa Anda mampu melewatinya. Jika orang lain yang mengalami apa yang Anda
alami, belum tentu mereka bisa sekuat Anda saat ini.
Setiap kesukaran yang kita alami
adalah semata-mata kesempatan untuk mengasah kita menjadi
pribadi yang lebih kuat. Seorang sarjana bekerja sebagai pegawai kantoran
dengan gaji tiga juta per bulan. Di lain pihak, seorang berijazah SMP mampu
menghidupi keluarga lewat usaha tambak ikan dengan penghasilan berkali lipat.
Ya, kesulitan memperoleh pekerjaan sering kali membuat kita berpikir lebih
keras, bagaimana cara memperoleh uang. Jika setiap masalah kita hadapi dengan pikiran
positif, tentu hasil yang positif juga akan kita dapatkan.
Hidup adalah untuk menyelesaikan
masalah. Meski tampak bahagia di luar, setiap orang pasti memiliki masalah
sendiri. Ada seorang gadis berparas cantik dari keluarga berkecukupan. Apapun
yang ia inginkan hampir selalu didapatkannya. Ia memiliki kekasih yang tampan
dan perhatian, di samping masih banyak pria lain yang juga memujanya.
Bahagiakah hidupnya? Tidak! Kedua orang tuanya telah lama bercerai, jika
bertemu pun sikapnya seperti kucing dan anjing. Masing-masing telah menikah
lagi. Tak ingin memilih salah satu pihak, akhirnya si gadis dan adiknya yang
masih SMA, memilih untuk tinggal berdua saja.
Coba Anda tengok orang-orang yang
tampak bahagia. Pasti akan Anda temukan satu sisi yang membuat orang itu merasa
hidupnya tidak sempurna. Begitu pun dengan diri Anda sendiri. Jika saat ini
Anda merasa punya masalah, selesaikanlah dengan tawakal tanpa pernah mengeluh.
Itulah ujian yang Tuhan berikan sesuai dengan porsi kemampuan
Anda.
Semoga bermanfaat
Semoga bermanfaat
Belajar itu Tuntutan Hidup!
Keringat yang
menetes tak menghalangi terkembangnya sebuah senyum di bibirnya saat kamibertemu. Raut wajahnya sedikit lelah, namun ia tak menggubrisnya. Dari
serambi Musalla
Universitas Islam Negeri Alauddin,Dirga Is
Harianto bercerita
tentang idealismenya dalam menuntut ilmu.
Lelaki berumur
21 tahun ini sekarang tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam di Universitas Islam
negeri Alauddin Makassar. Namun, pada transisi tahun 2009-2010, ia tak lebih dari
seorang karyawan lulusan SMK (SMK Darussalam Makassar) yang bimbang tentang masa depannya. Pada saat itu, gaji
bulanan telah ia dapatkan sebagai seorang Marketing di sebuah perusahaan swasta di Makassar.
Mimpi untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tentu merupakan sebuah
dilema karena kuliah akan membuatnya mengorbankan pekerjaannya. Hal itu belum
termasuk biaya kuliah yang harus ia tanggung. Mengandalkan orang tua jelas tak
mungkin. Profesi ayahnya sebagai Buruh
bangunan di kabupaten tempat dia di besarkan hanya cukup untuk membiayai kebutuhan
sehari-hari sekaligus sekolah adiknya. Sebagai sulung, ‘anak SMK’ ini
diharapkan mampu membantu keluarga secara finansial, setidaknya dengan cara mencukupi
kebutuhan pribadinya sendiri. Namun, sekali lagi, ia sangat ingin kuliah.
Mengapa ia
begitu ingin kuliah? Bukankah orang tuanya menyekolahkannya di SMK agar cepat bekerja?
“Mengikuti kata
hati. Saat itu bukan lagi pertimbangan-pertimbangan yang rumit dan memusingkan,
tetapi sudah dalam tataran jiwa. Saat itu pun sudah bekerja, tetapi memang ‘keinginan’ ada di bangku kuliah. Jadi,
itulah pilihannya,” jawab pria yang akrab dipanggil Gogo.
Awal April 2010 merupakan moment penting
baginya. Saat itu, Gogo sudah menetapkan hati untuk serius menggapai
cita-cita mengenyam bangku kuliah. Berbekal gajinya sebagai seorang Marketing, pria yang berdomisili di kota
Bunga Malino ini nekat
masuk bimbingan belajar (bimbel) untuk memahami pelajaran IPS SMA. Waktu luang
sekecil apapun dimanfaatkannya untuk belajar, baik di kantor maupun di dalam Angkot. Targetnya jelas: lulus SNMPTN
UIN 2010.
Tiga bulan
menyulap diri menjadi anak SMA sambil menjalani pekerjaan sebagai sales terlihat seperti sebuah kegilaan
tersendiri bagi Gogo. Sempat ia berpikir bahwa ini
merupakan suatu pertarungan yang tak berguna. Realitas yang hadir
dalam wacana “bagaimana bayar biayanya?” hadir untuk menghalangi idealisme yang mulai berkembang.
“Sebetulnya
harapan saya sudah punah saat itu. Dan itu berhubungan dengan materi (biaya).
Namun, kali ini mentor saya berkata dengan lantang, ‘Uang itu
masalah belakangan. Sekarang fokus belajar!! Memang kamu yakin bisa lolos?’ Ucapannya membuat saya semangat lagi,” kenangnya.
Untuk
membentengi diri dari pesimisme yang mulai melanda, ia mencari dukungan
sana-sini. Buku The Secret
karangan Rhonda
Byrne, cerita seorang mahasiswa luar kota yang berhasil masuk UI dengan biaya
pas-pasan, serta nasihat dari seorang teman nyatanya berhasil mendongkrak
motivasinya hingga ia ‘kembali ke jalan yang benar’. Gogo kembali memaknai kekuatan sebuah mimpi yang belakangan dianggapnya klise bagi sebagian orang. Ia dengan bersemangat menggapai mimpi itu agar
menjadi suatu kenyataan yang bisa diraih.
Waktunya tiba. April 2010, ia menjalani Seleksi SNMPTN di SMPN 8 Makassar. Di lokasi ujian, ia sempat bertemu
teman lama satu sekolah yang ternyata memiliki ‘kegalauan’ yang sama untuk
banting setir dari dunia teknik. Bersama-sama, mereka berdoa agar dapat bertemu
lagi sebagai mahasiswa di kampus yang sama.
Segala puji
bagi-Nya. Beberapa bulan setelah ujian, Gogo dinyatakan
masuk UIN Alauddin. “Waktu itu, saya langsung lari
keliling terminal Mallengkeri sambil teriak-teriak
saking senangnya.” Sambil tetap berdoa, pria Makassar ini bersiap untuk menyempurnakan ikhtiarnya. Ia
mengundurkan diri dari pekerjaannya, meminta keringanan biaya dari pihak
kampus, serta memikirkan pekerjaan sambilan agar dapat membiayai kuliahnya.
Selain itu, program beasiswa dari pemerintah pun dibidiknya.
Tuhan tak ragu
mencurahkan rizki padanya. Saat ia melayangkan permintaan pengunduran diri,
atasan justru membolehkannya tetap bekerja sambil menyesuaikan dengan jadwal
kuliah. Gogo tak kehilangan penghasilan bulanannya.
Rencananya ‘direvisi’ oleh Sang Maha
pencipta.
Rejeki lain
datang. Biaya kuliah yang tadinya 5 juta rupiah sebagai uang pangkal dan lima
juta rupiah lagi sebagai biaya kuliah per semester ‘terpangkas’ menjadi 300 ribu
rupiah (uang pangkal) dan 1 juta (biaya
kuliah per semester). “Ini karena saya menunjukkan kemiskinan saya, hahahaha….”
Gogo tergelak.
Kedua rizki di
atas akhirnya sempurna oleh rizki ketiga. Gogo mendapatkan
Beasiswa Bidik-Misi dari Kemendiknas sebesar Rp5 juta. “Dua juta saya
alokasikan untuk biaya kuliah, sisanya untuk biaya hidup.”
Apa rahasia
dibalik pencapaiannya selama ini?
“Rahasianya tidak ada...kecuali yakin sama kekuatan dahsyat kita sendiri
dan percaya bahwa hasilnya nanti adalah yang terbaik buat kita. Nothing
to lose, istilahnya.”
Sebagai penutup
perbincangan kami siang itu, dengan tatapan matanya yang cerah dan senyumnya
yang khas, Gogo berpesan untuk anak sekolah yang mengalami keterbatasan biaya
namun tetap ingin melanjutkan pendidikannya.
“Ketika masih
dalam usia anak dan remaja, jangan pernah berpikir bahwa bekerja lebih baik ketimbang
belajar (sekolah). Belajar itu wajib, musti, kudu. Belajar itu
tuntutan hidup. Belajar itu sampai akhir hayat. Berusahalah terus untuk
bersekolah.”
Minggu, 12 Agustus 2012
Sampah itu "Benderah.ku"
Kasihan Benderaku yang teronggok diantara sampah
Sudah menjadi sampahkah benderaku
Atau yang membiarkannya teronggoklah sampah
Sedih aku pada Benderaku
Yang tak lagi dibiarkan berkibar pada tiang
Hanya menyempitkan lemari-lemari penuh sampah
Sudah menjadi sampahkah Benderaku
Atau negeri ini memang penuh sampah..
Sehingga tak lagi bisa membedakan mana Bendera mana sampah
Padahal Proklamasi kemerdekaan ditandai dengan
Dikibarkannya Sang saka Merah putih
Lalu kenapa Benderaku kini ada diantara sampah..
Bukankah merah itu darahku
Putih itu tulangku
Itukan yang engkau katakan..
Lalu kenapa Benderaku menyatu dengan sampah
Apa tidak lagi merah darahmu
Dan tidak lagi putih tulang mu…
Biarpun langit ini akan terbelah
Tetaplah engkau benderaku..
Biarpun bumi ini akan berguncang
Tetaplah engkau Indonesiaku…
Sudah menjadi sampahkah benderaku
Atau yang membiarkannya teronggoklah sampah
Sedih aku pada Benderaku
Yang tak lagi dibiarkan berkibar pada tiang
Hanya menyempitkan lemari-lemari penuh sampah
Sudah menjadi sampahkah Benderaku
Atau negeri ini memang penuh sampah..
Sehingga tak lagi bisa membedakan mana Bendera mana sampah
Padahal Proklamasi kemerdekaan ditandai dengan
Dikibarkannya Sang saka Merah putih
Lalu kenapa Benderaku kini ada diantara sampah..
Bukankah merah itu darahku
Putih itu tulangku
Itukan yang engkau katakan..
Lalu kenapa Benderaku menyatu dengan sampah
Apa tidak lagi merah darahmu
Dan tidak lagi putih tulang mu…
Biarpun langit ini akan terbelah
Tetaplah engkau benderaku..
Biarpun bumi ini akan berguncang
Tetaplah engkau Indonesiaku…
Menghormati Yang Puasa itu Biasa, Menghormati Yang Tidak Puasa itu Luar Biasa!
Ada kata-kata yang
menurut saya terasa janggal disetiap bulan Ramadhan, dan akibat dari
kata-kata ini ada ormas Islam yang rela dengan penuh semangat
menggelorakan perjuangan/jihad dengan melakukan sweeping untuk menutup
rumah makan, resto siap saji yang membuka lapaknya disiang hari bulan
ramadhan, entah apa motivasinya, apakah memang hal tersebut diajarkan
oleh rasulullah SAW atau tertulis jelas dalam kitab suci al-Quran
sehingga berdasarkan dua sumber dalil ini mereka ingin menegakkan
kebenaran. Terkecuali tempat-tempat maksiat, no options menurut saya,
namun yang melakukan hal tersebut tentu bukan warga sipil melainkan
aparat yang berwenang.
Apa yang mereka lakukan dengan menutup paksa rumah-rumah makan menurut saya sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur ibadah puasa, yaitu sabar/menahan diri. Puasa yang
menurut asal bahasanya berarti menahan diri/hawanafsu adalah satu
bentuk cara Tuhan menanamkan sifat-sifat mulia ketuhanannya kepada
manusia, yaitu sabar, ash-sh-shobuur Sang Maha Penyabar.
Menghormati hak asasi
manusia itu perintah Allah, maka orang yang tidak puasa harus
merealisasikannya dalam kehidupan social sehari-hari. Namun harus kita
akui pula menghormati orang yang tidak puasa juga menjadi bagian dari
hal tersebut. Orang yang berpuasa itu butuh ujian, tanpa ujian tentu
puasa itu terasa hambar dan tidak bernilai. Dan harus kita sadari pula
bahwa orang yang tidak berpuasa pasti memiliki banyak alasan
diantaranya:
1. Bukan seorang muslim
2. Mungkin Sedang sakit
3. Tidak kuat berpuasa
4. Orang Islam tetapi lemah iman
5. Bekerja berat dan membutuhkan suplay energy lebih banyak
Mereka
tidak membutuhkan kekerasan yang akan berakibat penentangan, penolakan
dan caci makim yang mereka butuhkan pengetahuan, penyadaran akan hak
masing masing warga Negara.
Selain itu , yang terpenting adalah sesungguhnya panggilan berpuasa itu berlaku khusus, yaitu orang-orang
yang beriman, sebagaimana firman Allah sudah sangat familiar di telinga
kita, yaitu surah al-Baqarah ayat 183. Tujuan utamanya perintah
berpuasa pada ayat itu adalah agar orang yang menjalankan ibadah
tersebut memiliki sifat taqwa, takut karena cinta kepada Allah.
Menghormati orang yang
tidak berpuasa dan membiarkan mereka berjualan sebagaimana hari biasa
mencari nafkah merupakan satu bentuk penghargaan terhadap hak setiap
manusia. Namun tentunya pemerintahpun harus memiliki kebijakan atas
aspirasi sebagian masyarakat yang ingin puasanya tidak terganggu dengan
memfasilitasi mereka dengan
aturan yang tidak merugikan salah satu pihak, aturan yang adil untuk
mereka yang berpuasa dan yang tidak berpuasa. Tentunya hal tersebut
dilakukan agar tidak terjadi clash antar sesama warga Negara, yang akhirnya jika dibiarkan pemerintah juga yang terkena dampaknya, jadi bagaimana caranya pemerintah mengayomi keduanya dalam arti diantara mereka tahu rambu-rambunya, sebagai bentuk toleransi antar dan sesama umat beragama.
So, mari yang sedang berpuasa, hormatilah mereka yang tidak berpuasa, karena itu akan menambah kualitas ibadah kita kepada-Nya.
JIKA INI RAMADHAN TERAKHIRKU
Allah sayang aku…..
Luar biasa sayang-Nya…
Semua tepat pada waktunya….
dalam akhir Dzuhurku tadi…..
Aku bayangkan ….
Mungkin ini Ramadhan terakhirku…..
Allah menjagaku untuk tetap suci, jalankan semua perintah-Nya dalam
bulan ini….bulan penuh pengampunan dan pengumpulan amal, badanku
tiba-tiba bergetar tak terasa air mata ini tumpah.Ataukah karena kuingat “mati”ku atau masalah sebelum aku menghadapMU di Dzuhur tadi, aku tak tahu…..yang jelas pikirku berkata…ini adalah Ramadhan terakhirku…
Aku dibiarkan suci tanpa “tamu”ku
Aku Engkau buatkan ujian sebelum Ramadhan ini
Untuk aku bertobat, lebih mendekat padaMU
Karena dengan Mu aku merasa damai….tenang….
Diantara gelisah, resah akan kehidupan dunia…
Aku khusyu menjalani apa yang menjadi
taqdirku, aku serahkan pada-Mu yang membuat semua ini terjadi, doaku
semakin kupinta dari-Mu…..aku tenang, aku seolah ada dalam tangan-Mu
Dan masih dalam sujudku……
kutanyakan pada-Mu…..
benarkah yang aku rasa….?
Ini RAMADHAN terkhirku…..?
Jika Iya….sungguh aku bersyukur, karena
Engkau ciptakan suasana agar aku lebih dekat dengan-Mu, lebih syahdu ku
dendangkan firman-Mu disaat malam-malamku, ketika mata ini, hati ini,
tubuh ini tak kompromi atas kelelahan jiwa dan ragaku…terus terjaga, tak
lebih karena Ujian-Mu yang begitu menampar kehidupanku.
Dan kemudian di akhiri dengan hari Kemenangan
Dimana aku meminta maaf pada siapapun yang ada saat itu…
Atas segala dosa dan klilafku di dunia….
Allah Sayang padaku ….
Jika semua benar apa yang aku rasa
Di Dzuhurku ini….
Maafku atas salah, dosa dan kekuranganku dalam menjadi “BULAN” mu.
“Bulan itu menerangi ya menerangi aja, gak perlu diminta-minta”
“Dan tau kapan waktunya, mesti terang penuh, terang separo dan kapan mesti tak nampak “
“Aku ingin kamu jadi bulan yang menerangi hatiku “
Untuk sebuah nama yang selalu ada memenuhi
setiap sudut rongga di hatiku dengan cinta yang kamu punya, untuk
kesetiaan yang kau beri, segala bentuk perhatian, kasih sayang dan
kesabaran juga pembelajaran selama ini, aku sangat-sangat beruntung
pernah memiliki mu dan menjadi salah satu milikmu yang selalu kamu jaga
dengan sangat baik. I LoVe You so much…….titip semua yang telah aku
berikan padamu atas ijin dan doa-Nya…
Rabu, 13 Juni 2012
Ayah
Biasanya, bagi seorang anak
perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja diperantauan,
anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak
perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..akan
sering merasa kangen sekali dengan ibunya.
Lalu
bagaimana dengan Ayah?
Mungkin
karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi
tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Mungkin
dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau
berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah
lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan
seharian?
Pada saat
dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri
kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan
roda bantu di sepedamu…
Kemudian
Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Ibu takut
putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi
sadarkah kamu?
Bahwa
Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda
dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat
kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu
iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi
tidak sekarang”
Tahukah
kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja
dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu
sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan
berkata :
“Sudah di
bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda
dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah,
saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika
kamu sudah beranjak remaja….
Kamu
mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas
dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah
kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?
Karena
bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..
Setelah
itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang
datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu….
Bahwa
Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika
saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk
menemuimu,
Ayah akan
memasang wajah paling cool sedunia…. :’)
Ayah
sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang
tamu..
Sadarkah
kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu
mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar
rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang
dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati
yang sangat khawatir…
Dan
setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…
Ketika
melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah
memarahimu.. .
Sadarkah
kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa
putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah
lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana.
Ketahuilah,
bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena
memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh
Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan
keinginan Ayah..
Ketika
kamu menjadi gadis dewasa…..Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah
harus melepasmu di bandara.
Tahukah
kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?
Ayah
hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk
berhati-hati. .
Padahal
Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah
lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu
berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.
Ayah
melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat
kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama
yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah
pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan
teman-temannya yang lain.
Ketika
permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak
bisa memberikan yang kamu inginkan….
Kata-kata
yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal
dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan
untukmu”.
Tahukah
kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya
kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Ayah
adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Ayah akan
tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja
berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai
saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk
mengambilmu darinya.
Ayah akan
sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena
Ayah tahu……
Bahwa
lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan
akhirnya….
Saat Ayah
melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di
anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah
kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung
sebentar, dan menangis?
Ayah
menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa…..
Dalam
lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya
Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita
dewasa yang cantik….
Bahagiakanlah
ia bersama suaminya…”
Setelah
itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali
datang untuk menjenguk…
Ayah
telah menyelesaikan tugasnya menjagamu …..
Ayah,
Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan
ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus
terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia
adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala
hal..
Tapi untuk saya, semua itu hanya khayalan semata. tidak untuk saya Ayah? Ayahku
telah tenang di Alam sana, tapi Ayahku akan selalu dihatiku, akan ku
perlihatkan kepada Ayahku disana bahwa Gadis Kecilmu ini telah tumbuh besar dan
sudah bisa melakukan apa saja, sudah bisa melawan pahitnya Dunia, walaupun Ayah
tidak ada disampingku lagi, tapi Ayahku akan selalu ada disetiap langkahku.
Luph U Ayah.
Langganan:
Postingan (Atom)

